Pernikahan

August 11th, 2006 by amandaiko

Jul 10, ‘06 2:11 PM  - http://armansyah.multiply.com

Menjelang bulan puasa, undangan pernikahan selalu saja menumpuk. Alhamdulillaah.. begitu banyak kemudahan dari Allah swt melapangkan jalan ummatNya buat mengikuti sunnah Rasul.

Sayangnya di beberapa kali persiapan pernikahan keluarga, aku selalu menemui kejanggalan dan merasakan kepedihan yang bisa membuat migrain kumat dan susah tidur.. hehee karena memang, kalau ada pikiran.. bercangkir kopi akan jadi sahabat karibku.

Gonjang-ganjing persiapan pernikahan selalu saja membuat hatiku meringis pedih. Kenapa ya, soal-soal sepele seperti pilihan tempat, pilihan waktu, pilihan menu catering, seragam panitia, adat mana yang mau dipakai, pembagian undangan antara pihak pengantin pria dan wanita dan sejutaaaaaaa hal remeh lainnya bisa membuat suasana begitu meng’gerah’kan. Tegang, saling ghibah dan hati bisa jadi begitu sarat dengan su’udzon.. untuk mempersiapkan acara yang harusnyaaaa.. begitu sakral.. indah.. suci… MasyaAllah!

Perdebatan soal hal-hal begitu bisa muncul antara orangtua pengantin dengan si calon pengantin, antara keluarga besar calon besan, antara panitia, bahkan… kadang ‘nyetrum’ juga ketegangan suasananya kepada kedua calon pengantin. Iya-lah, pastinya kan masing-masing akan membela pendapat keluarganya, merajuk supaya calonnya bisa membuat keluarganya mengerti dan menerima pendapat keluarga satunya.

Alamaaakk.. rumit betul memang ya, menyatukan dua keluarga besar, sampai semua pihak bisa lupa pada pertanyaan yang mendasar "Sebetulnya yang mau nikah siapa sih yaaaaaa…??"

Persiapan pernikahanku sendiri dulu jauh dari sempurna. Tidak luput juga dari rusuh, rungsing dan ketegangan (apalagi memang kejadiannya hampir berbarengan dengan kerusuhan politik beneran, yang membuat semua rencana matang mendadak jadi mentah kembali).

Tapi masih ingat betul aku, suatu malam.. Mama memanggil dan mengajakku bicara serius, panjang-lebar-luas dan dalammm sekali. Intinya, Mama berpesan bahwa sebagai janda, beliau tak kan mampu (lahir-batin) untuk menyelenggarakan pesta besar dan meriah buat pernikahanku. Tapi dia ingin menghadiahkan sesuatu yang istimewa, yang akan aku kenang sepanjang hayat, yakni ijab qabul yang khidmat. "Maksudnya apa sih?" Aku masih ingat, itu pertanyaanku pada beliau saat itu.

Dan Mama menjawab "Acara perkawinan hanyalah sekedar acara, akhirnya akan berlalu begitu saja. Tamu-tamu akan pulang. Undangan dan suvenirmu kemungkinan besar akan berakhir di tong sampah. Makanan akan habis, berakhir jadi sampah juga. Pakaian yang panitia pakai, akhirnya akan disimpan di lemari, kecil kemungkinannya dipakai lagi, syukur kalau bisa disedekahkan, tapi jarang juga kan kita kasih sedekah berupa kebaya kerlap kerlip? Yang tersisa buat Mama dan semua orang selepas acara mungkin hanya kaki yang pegal dan rambut kaku penuh hairspray. Tapi tidak begitu dengan kamu dan Adam, karena hidupmu, setelah ijab qabul akan berubah total, tidak akan pernah sama lagi. You will not be my little girl anymore, you’ll be a wife. Akan banyak tugas dan tanggung jawabmu, dan itu tidak akan ringan. Akan banyak ups & downs yang kamu hadapi dalam kehidupan rumahtanggamu, kemungkinan besar lebih banyak downs-nya. Akan ada masa kamu ngga kepingin senyum. Akan ada masa kamu ngga mengerti tentang suamimu atau dirimu sendiri. Akan ada masa kamu mempertanyakan, apa langkahmu benar dan bahkan mungkin sekali waktu akan ada godaan yang membuatmu ingin berandai-andai bahwa kamu ada dalam kehidupan yang berbeda. Semua itu harus kamu hadapi dan patahkan sendiri, ngga bisa lagi kamu berlindung di balik ‘rok’ Mama (entah apa arti sebenar-benarnya, tapi istilah -sembunyi di balik rok- ini lazim sekali dipakai dalam keluargaku). Pada saat kamu dihadang masalah, mudah-mudahan ijab qabul-mu akan jadi kenangan yang membekas, yang mengingatkan kamu dan suamimu bahwa komitmen kalian adalah kepada Tuhan. Dan mudah-mudahan ingatan yang seperti itu akan menguatkan kalian berdua buat terus memberi upaya yang terbaik, ngga peduli serumit apapun masalah yang kalian hadapi. Cuma itu do’a Mama setiap saat, supaya moment sakralmu bisa selalu kamu genggam.. tidak ternoda oleh segala kesibukan dan kegelisahan persiapan acaranya".

Duh, sekarang.. setelah makin sering aku mengalami hingar-bingar persiapan-persiapan pesta pernikahan sanak keluargaku.. makin sering juga ingatanku kembali pada ‘pidato’ Mama malam itu. Alhamdulillaahh.. betapa murah hatinya Allah pada aku, mengaruniakan Mama yang begitu bijak sehingga saat itu, detik itu.. kami bisa bersepakat buat meletakkan kesakralan di atas segala persiapan lainnya.

Kesepakatan itu artinya, menahan diri untuk tidak terpancing berdebat, berbeda pendapat, dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan santai dan penuh kenikmatan. Sulitnya jangan ditanya, menyatukan isi dua kepala saja sudah berat, apalagi ada banyak kepala yang terlibat dalam persiapan hajatan itu.. Belum lagi keterbatasan yang juga banyak dan kendala emosi dari diriku sendiri. Masa-masa itu adalah masa di mana hatiku separo marah pada dunia bahwa Papa tidak mendampingi aku, sehingga rasanya semua orang merasa punya andil buat mengatur acara-ku. Aku membayangkan, kalau saja Papa ada, pasti orang-orang akan segan, dan membiarkan Papa memutuskan (dan Papa, pasti akan berdiskusi dulu denganku sebelum memutuskan!) Bersyukurlah kalian yang menikah didampingi Ayah, karena ketiadaan sosoknya betul-betul membuat perbedaan. (Ini yang selalu membuat airmataku mengucur deras tiap kali ‘menonton’ adegan ijab qabul )

Kenyataannya, yang sekarang tersisa dari acara pernikahanku memang ‘hanya’ beberapa album foto yang sudah mulai kuning. Senyum-senyum simpul aku dan Adam yang mengagumi betapa langsing-nya kami 8 tahun silam. Tidak ingat lagi, bagaimana rasanya makanan hari itu, dan segala detail memang seperti menguap.

Tapi tidak bagian ijab qabul. Aku masih bisa merasakan tangis yang tertahan di tenggorokan, waktu aku harus menggenggam tangan Oom-ku dan menatap mata Ibuku, memohon izin buat dinikahkan. Aku masih merasakan genggaman tangan Oomku yang sejenak, mengingatkan aku pada genggam tangan Papa waktu menggandengku di masa kecil dulu. Dan aku masih merasakan, rasa yang tak bisa terkatakan, ketika mendengar Adam membacakan Al Baqarah ayat 128 sebagai mas kawin dan berijab qabul dengan Oom-ku. Aku masih ingat, do’a dan janjiku dalam hati, at that very moment, "Ya Allah, jadikan hati kami kokoh dalam iman, menjaga satu sama lain dalam keadaan apapun.."

Ternyata Mama memang benar.. tak ada yang lebih penting dari kesakralan ijab qabul. Itulah, saat malaikat pun berkumpul menjadi saksi dan perjanjian suci kita. Dan janji adalah sesuatu yang harus ditepati. Harus. Paling tidak, upaya untuk menepatinya harus betul-betul maksimal (dan sungguh, Allah Maha Tahu akan niat yang ada dalam hati tiap hambaNya, kan?).

Ternyata aku sungguh beruntung, karena antara aku dan Adam, ketika mempersiapkan pernikahan itu tidak ada beban untuk menjadikannya sebuah acara yang sempurna, sehingga kami justru bisa sangat santai menikmati diskusi tentang rencana-rencana buat masa depan, membicarakan prinsip dan pandangan yang tentang kehidupan berkeluarga, karir, anak, dll.. yang ternyata sangat banyak perbedaannya, tapi juga sangat melengkapi satu sama lain.

Mudah-mudahan, adik-adikku dan Adam.. teman-teman.. keponakan-keponakan yang masih sedang menjelang hari bahagianya dan bahkan someday, insyaAllah anak-anak kami berdua juga bisa mereguk kenikmatan pernikahan, lebih dari sekedar pelaksanaan perhelatannya.

Mudah-mudahan, tak usah kalian dipusingkan dengan keluarga ini maunya begitu.. keluarga itu maunya begini.. dan mudah-mudahan kesakralan perjanjian kalian di hadapan Sang Khalik akan menjadi hal yang jauuuuuuh lebih utama dan berarti dibandingkan meributkan, siapa yang menyetor lebih banyak modal sehingga lebih berhak ‘mengatur’pesta pernikahan kalian. Ah, sungguh suatu ‘kemiskinan hati’ dan kepicikan yang luar biasa apabila hal-hal duniawi seperti itu menjadi titik pangkal kalian dalam mengawali kehidupan baru sebagai seorang suami dan istri!!

Semakin dekat kalian dengan saat ijab qabul, semakinlah perkaya hati kalian mencari modal hakiki yang betul-betul akan kalian butuhkan dalam kehdiupan perkawinan kalian, yakni ketenangan hati, mencari ridha Allah swt dan menambah khasanah ilmu supaya saat menghadapi ‘Ujian Nasional’ yang berulang-ulang dalam bahtera perkawinan nantinya, tidak ada istilah tidak lulus untuk mencapai rumahtangga sakinah, mawaddah nan penuh rahmah.. (karena rasa2nya, sulit mencari ujian ulangan atau paket C untuk ketiga aspek itu ;-)

Mudah-mudahan, kala aku menjadi Tante, Bude, atau bahkan si Ibu Pemangku Hajat kelak, aku mampu membekali si calon mempelai dengan modal yang tidak semata ‘habis’ ketika pesta usai.. tetapi modal yang bisa mereka pakai, ketika kelak Allah swt meminta pertanggungjawaban atas janji mereka berdua di hadapanNya.

******************hds/Juli 2006

Theo Toemion dan Kami… (bagian 2)

August 11th, 2006 by amandaiko

May 10, ‘05 11:16 AM

Pelajaran kedua… Apa yang ingin kita ajarkan pada anak kita? Pertanyaan ini adalah refleksi kami berdua, setiap kali situasi ‘menggoda’ kami untuk melanggar petuah-petuah kami sendiri pada kedua buah hati kami. Ketika mereka membombardir dengan sejuta pertanyaan dengan frekwensi suara yang sangat tinggi, rasanya mudah sekali kami meng’hardik’ mereka untuk SABAR. Lalu ketika mereka terburu-buru minta sesuatu dengan intonasi suara ‘menyuruh’, kami tak akan pernah lupa mengingatkan mereka untuk BICARA SOPAN.. pakai kata "tolong…" dan jangan lupa ucapkan "terimakasih…" dan masih ada sejuta lagi petuah kami supaya mereka tumbuh menjadi manusia yang santun dan berbudi pekerti.

Tapi bagaimana ketika di jalan, ada orang menyerobot antrian kami di tengah kemacetan lalu lintas? Bagaimana ketika kami belanja, dilayani oleh spg yang sambil asyik ngobrol dengan teman-teman kerjanya sehingga kami seperti tidak dipedulikan? Adakah kami bisa bersabar dan bicara sopan? Pribadi yang santun dan berbudi pekerti-kah kami dalam keseharian kami? Ketika situasi tidak menyenangkan, tidak sesuai harapan dan memancing emosi?? Padahal kami tahu betul, bahwa sopan santun, budi pekerti, etika, moral… bukan hal-hal yang bisa dipelajari di sekolah. Bahkan sekolah yang menggunakan metode tercanggih dan kurikulum plus plus plus sekalipun tak akan mampu mencetak murid-murid yang santun dan berbudi pekerti, apabila kerja pencetakan itu dibebankan hanya pada sekolah itu saja.

Di sisi lain, apabila ‘nilai’ anak minus dalam hal sopan santun, budi pekerti, etika dan moral.. kami pun sadar bahwa tak akan pernah ada tempat les atau bentuk remedial apapun yang bisa mendongkrak nilai itu. Sesungguhnya, porsi terbesar dalam pembentukan karakter anak, adanya pada diri kita sebagai orangtua mereka. Dari kita lah anak-anak belajar tentang sopan santun, budi pekerti, etika dan moral (termasuk pengendalian emosi )…bukan pula melalui petuah dan rentetan ceramah, … tetapi ‘cukup’ dengan memberikan contoh dalam keseharian kita.. melalui hal-hal paling remeh sekalipun… terutama hal-hal yang kita lakukan saat kita mengira bahwa anak-anak tak melihat kita… seperti tulisan Mary Korzan di bawah ini…

When You Thought I Wasn’t Looking…

When you thought I wasn’t looking, I saw you hang my first painting on the refrigerator, and I immediately wanted to paint another one.

When you thought I wasn’t looking, I saw you feed a stray cat, and I learned that it was good to be kind to animals.

When you thought I wasn’t looking, I saw you make my favorite cake for me, and I learned that the little things can be the special things in life.

When you thought I wasn’t looking, I heard you say a prayer, and I knew there is a God I could always talk to, and I learned to trust in God.

When you thought I wasn’t looking, I saw you make a meal and take it to a friend who was sick, and I learned that we all have to help take care of each other.

When you thought I wasn’t looking, I saw you give of your time and money to help people who had nothing, and I learned that those who have something should give to those who don’t.

When you thought I wasn’t looking, I saw you take care of our house and everyone in it, and I learned we have to take care of each other and family.

When you thought I wasn’t looking, I saw how you handled your responsibilities even when you didn’t feel good, and I learned that I would have to be responsible when I grow up.

When you thought I wasn’t looking, I saw tears come from your eyes, and I learned that sometimes things hurt, but it’s all right to cry.

When you thought I wasn’t looking, I saw that you cared, and I wanted to be everything that I could be.

When you thought I wasn’t looking, I learned most of life’s lessons that I need to know to be a good and productive person when I grow up.

When you thought I wasn’t looking, I looked at you and wanted to say, "Thanks, for all the things I saw when you thought I wasn’t looking." (c) 1980 Mary Rita Schilke Korzan

This poem was written as a tribute to my mom, Blanche Schilke for she always remind me with this question : "Each of us (parent, grandparent, aunt, uncle, teacher, or friend) influence the life of a child. How will you touch the life of someone today?"

********************** hds/may 2005

Theo Tomion & Kami… (bag. 1)

August 11th, 2006 by amandaiko

May 4, ‘05 10:45 PM - http://armansyah.multiply.com

Kami berdua ngga kenal lho sama Theo Tomion! Sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, paling banter kami ‘kenal’ wajahnya dari media massa. Tapi hari-hari belakangan ini, kami berkhayal andai kami kenal dia.. kami ingiiiin sekali mengucapkan terima kasih karena dia telah memberi pelajaran berharga buat kami berdua, lewat huru-hara yang terjadi di JIS.

Pelajaran pertama.. Biarkan anak tumbuh dalam dunianya. By this, berarti juga membiarkan mereka merasa kecewa, sakit, jatuh, gagal. Oh, tentu.. ini berat sekali. Orangtua mana sih yang rela melihat anaknya ‘menderita’? Tetapi kalau saja kita mengkilas balik secuplik kehidupan kita sendiri, tidakkah segala kesulitan dan hal yang rasanya berat untuk dilalui justru memberi kita pelajaran paling bermakna? Bukankah segala air mata dan beban berat yang pernah kita rasakan justru membuat kita lebih kuat menyongsong masa depan? Lalu kenapa, kita ingin segalanya sempurna untuk anak-anak kita? Mereka jangan sampai kepanasan, jangan sampai terselubung debu, jangan sampai terjebak macet, jangan sampai kehujanan, jangan sampai kalah bertanding, jangan sampai tidak terpilih ikut pementasan, jangan sampai tidak masuk dalam tim olahraga di sekolah, jangan sampai terdorong oleh temannya, jangan sampai diledek oleh temannya, jangan sampai ia mendapat nilai jelek, jangan sampai ia ditegur orang, jangan sampai hatinya sakit.. oh, the list can just go on and on….

Sebagai orangtua, kamipun pernah melalui tahapan pemikiran ’sejuta jangan sampai…’ itu untuk anak-anak kami. Khususnya pada saat mendampingi si sulung tumbuh pada awalnya. Tetapi (Alhamdulillah..) semakin lama kami semakin disadarkan, bahwa tugas kami sebagai orangtua bukan menghindarkan anak dari rasa sakit.. juga bukan untuk memberi obat penghilang rasa sakit itu.. tetapi simply.. mendampingi mereka dengan cinta, sehingga segala yang terasa sulit, berat, tidak enak dan menyakitkan bisa mereka lewati dengan kepala tegak. Kami masih ingat, betapa keras jemari kami saling menggenggam dan penuh mata kami oleh genangan air mata, ketika melihat bagaimana putri sulung kami di usianya yang 3 tahun dikucilkan oleh teman–temannya, karena saat itu ia hanya bisa ber’bahasa planet’ dan tidak dimengerti oleh teman-temannya. Ingin rasanya menggandeng tangannya dan mengantarnya ke tengah teman-temannya yang sedang berkumpul, lalu mengatakan pada teman-temannya itu "ini Amanda.. diajak main sama-sama yaa.." Namun hati kecil kami tahu, ini adalah pelajaran penting, bagian dari ‘growing pains’ yang harus ia lewati, karena real life is exactly like that.. tidak akan selalu mulus, tidak akan selalu adil, tidak akan selalu menempatkan kita di posisi yang enak dan nyaman.

Sebagai orang beragama, lebih jauh lagi kita percaya bahwa anak-anak ‘hanya’lah titipan.. pinjaman sementara dari Sang Khalik. Entah sampai kapan kita diberi kesempatan untuk mendampingi mereka. Bagi kami berdua, bayangan bahwa tidak selamanya kami bisa berada di sisi anak-anak lebih menguatkan lagi keyakinan bahwa tugas kami adalah mempersiapkan mereka menjadi manusia yang tegar dan tangguh. Tentunya bukan berarti bahwa kami harus meng’gojlok’ mereka model akademi militer atau perploncoan a la jaman mahasiswa dulu.. tetapi membiarkan hidup menempa mereka apa adanya.. tidak menempatkan jiwa mereka di dalam bola kristal yang tak terjamah oleh kepahitan.

Kami jadi teringat, sebuah puisi yang dikirimkah oleh seorang kawan lama, ketika putri sulung kami (sekarang usianya sudah 6 thn!) baru saja lahir. Puisi ini sering kami baca ulang, karena begitu bermakna buat kami untuk saling mengingatkan.. mudah-mudahan bermakna pula bagi teman-teman yang membaca.

DO’A SEORANG PRAJURIT (Jend. Douglas Mac Arthur)

Tuhanku, Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah, dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut.

Manusia yang selalu memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati serta jujur dalam kemenangan.

Bentuklah putraku menjadi manusia kuat dan mengerti bahwa mengetahui dan kenal akan dirinya sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.

Tuhanku, Jangan bimbing putraku di atas jalan yang mudah dan nyaman biarlah Kau bimbing dia di bawah tempaan dan desakan kesulitan tantangan hidup.

Bimbinglah putraku supaya tegak berdiri di tengah badai, berbelas kasih kepada mereka yang jatuh.

Bentuklah putraku menjadi manusia berhati bening dengan cita setinggi langit. Seorang putra yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum ia berhasrat memimpin orang lain. Seorang putra yang menjangkau ke hari depan tapi tidak melupakan masa lampau.

Dan setelah segala kebaikan menjadi miliknya, semoga putraku dilengkapi hati yang ringan dan kemampuan untuk bersenda gurau sehingga ia mampu menari serta selalu akan bersungguh hati, tapi jangan sekali-kali menganggap dirinya terlalu berkesungguhan.

Berikanlah padanya kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan hakiki, pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan bagi kelembutan dari kekuatan sebenarnya.

Dan saat ia melewati semua itu aku, orangtuanya, ‘kan berani berbisik, "Hidup kami tidaklah sia-sia".

disadur dari: A SOLDIER’S PRAYER (Jend. Douglas Mac Arthur)

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be; a son who will know Thee….

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clean, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will learn to laugh, yet never forget how to weep; one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously.

Give him humility, so that he may always remember the simplicity of greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength. Then I, his father, will dare to whisper, "I have not lived in vain."

************************ hds/mei 2005

Ikhlas yang masih membutuhkan keikhlasan

July 12th, 2005 by amandaiko

"Apabila kamu masih bisa melihat keikhlasan di dalam keikhlasanmu, masa sesungguhnya keikhlasan itu masih memerlukan keikhlasan yang jauh lebih besar lagi" (Abu Yakub Assusy)

Beberapa saat yang lalu, saya dikecewakan oleh seorang teman.. seorang sahabat malah. Singkat kata, ternyata saya salah menilai persahabatan kami. Dan pedihnya ditikam dari belakang, tak tergambarkanlah dengan apapun. Sampai beberapa hari setelah kejadian, saya masih menangis.. bukan karena perlakuan yang saya terima, tetapi lebih karena mengenang indahnya hari-hari ketika persahabatan itu masih seperti sangkaan saya; mutual.. berlaku 2 arah.

Hari-hari setelah itu, ketika air mata mulai surut.. saya mulai berpikir, where did I miss? Kenapa saya bisa berada dalam sangkaan yang salah? Kenapa saya bisa keliru menilai persahabatan itu? Kenapa dia tega…? Yang saya rasakan bukan kebencian, bahkan tidak juga dendam. Kalau boleh jujur, saya justru mati rasa..

Lalu seperti biasa, sejak kecil bila saya menemui masalah hingga sekarang, saat sudah ber-anak 2.. Ibu datang menangkap kegelisahan saya. Cuma dengan usapan-usapan di punggung, tanpa kata-kata.. Tapi bisa membuat saya menumpah-ruahkan semua rasa perih. Saya menceritakan, betapa saya, dulu.. sangat menyayangi sahabat saya ini.. Betapa saya, dulu.. ikut terlibat mengurusi anak-anak sahabat saya ini (yang saya pikir, tak lain adalah anak-anak saya juga!)… Betapa saya, dulu.. selalu dimintai tolong ikut menyelesaikan masalah-masalah sahabat saya ini.. yang sepele sampai yang menyita batin.. yang sederhana sampai yang rumit.. di siang bolong maupun di tengah malam buta.. Betapa saya, dulu.. all ears, siap sedia mendengarkan semua keluh kesah dan menjadi tong sampah untuk semua masalahnya.. Betapa kalau mengenang semua yang saya lakukan untuknya, dulu.. saya begitu sedih.. pilu mempertanyakan kenapa dia bisa melakukan semua ini pada saya ?? "Padahal dulu itu saya melakukannya ikhlas sebagai sahabatnya lho Ma…" begitu saya menutup keluh kesah saya pada Ibu..

Menanggapi ceracauan panjang lebar saya itu, dari mulut Ibu, cuma keluar satu kalimat pendek.. "Ikhlas itu ngga ada past tense -nya, nduk.." Singkat tapi menghujam jauh ke hati.

Dari kecil, Kakak saya & Saya memang sudah terbiasa dengan Ibu yang perfeksionis soal bahasa. Kalau ada kesalahan pengucapan, apalagi susunan kalimat (terutama dalam bahasa Indonesia lho!) pasti beliau akan langsung mengoreksi. Tapi koreksinya kali ini.. saya yakin, bukan didasari permasalahan tata bahasa yang salah. Dari sorot mata dan usapan di pundak, saya mengerti bahwa Ibu sedang menegur saya, karena apa yang saya lakukan pada menit & detik itu.. adalah jauh dari keikhlasan. Saya tengah menghitung jasa dan saya tengah kecewa, karena apa yang saya lakukan tidak mendapat ‘balasan’ yang sesuai. Setengah tersenyum (karena jujur, masih ada sedikiit rasa getir menggelayut di hati), saya merasakan malu yang amat sangat pada diri sendiri. Seperti dihadapkan pada cermin yang menunjukkan betapa tidak tulusnya saya.. betapa berpamrihnya saya atas apa yang pernah saya lakukan.

Dan yang lebih memalukan lagi, jika direnungi lebih jauh, betapa seringnya pamrih itu muncul dalam keseharian.. dari mulai membuka mata, ketika berinteraksi dengan suami dan anak-anak.. sampai ke sekolah, tempat kerja saya, ketika melayani para orangtua murid dan bersentuhan dengan kolega. Tentu saja saya tak akan pernah puas, karena untuk tiap hal yang saya anggap baik untuk dilakukan, minimal ada pengharapan bahwa orang mengakuinya.. atau bahkan sebisa mungkin membalasnya juga dengan kebaikan.

Ah, ternyata… Begitu tinggi saya ‘menghargai’ diri sendiri.. Begitu ujub -nya saya pada kemampuan, yang datangnya tak lain karena kehendak Allah semata.. Astaghfirullah al’adziim…!!

KISAH DUKA ANAK ANAK JENIUS

April 9th, 2005 by amandaiko

Bagaimana kira-kira bayangan anda terhadap anak-anak jenius?
Apakah anda membayangkan bahwa anak-anak ini adalah anak penyandang
gen perfek berotak encer, gemerlap dan selalu mendapat medali?

Ternyata tidak demikian gambarannya, masa kecilnya penuh dengan rasa
sedih, duka, dan lara. Semuanya karena apa yang dihadirkan baik dari
segi perilakunya dan kemampuannya meraih prestasi di sekolah justru
jauh dibawah rata-rata anak normal. Ia berkelakuan seringkali justru
brutal, keras kepala, semaunya, sulit diatur, dan sering berkelahi.
Prestasi di sekolah juga nol. Sebagian besar anak-anak ini justru
tidak survive, banyak dari mereka yang dilatar belakangi oleh ketidak
harmonisan rumah tangga, dan tekanan dari fihak sekolah justru
membuatnya melarikan diri ke arah kenakalan remaja, depresi, stress,
atau mengalami gangguan biologis karena masalah psikologis
(psikosomatis). Mengapa demikian? Itu semua karena anak-anak ini
mempunyai karakter yang sangat khusus. Ia adalah satu kelompok anak
tersendiri, yang lain dari anak lain.

Masa balitanya dilihat oleh dokter sering dituding sebagai
anak yang mengalami gangguan perkembangan. Baik dari perkembangan
fisik, perkembangan psikologis, atau juga gangguan kemampuan bicara,
komunikasi dan sosial. Waktu kelas-kelas bawah sekolah dasar sering
disangka anak yang mengalami gangguan perkembangan inteligensia, atau
kurang cerdas. Bahkan sering tertuding sebagai pembuat onar di kelas,
tidak punya konsentrasi, dan sulit diberi pelajaran, tidak mau
membuat pekerjaan rumah, serta membangkang. Di kelas sering melamun,
tidur di meja, dan lebih senang dengan memainkan pinsilnya, daripada
mengikuti pelajaran.

Di kelas satu dan dua bahkan dia sulit diajar membaca, menulis,
bahkan berhitung sekalipun. Penampilannya tidak seperti anak jenius
atau anak gifted sebagaimana layaknya yang kita bayangkan. Ia lebih
macam anak urakan tapi dungu. Benarkah demikian?

PERKEMBANGAN KHUSUS
Yang kita ingat, orang yang terbilang jenius adalah Einstein,
Michelangello. Thomas Alfa Edison, Rembrant, van Gogh, Bach, dan
sebagainya. Lalu selanjutnya jarang kita dengar lagi ada kelompok
jenius yang kelasnya bagai mereka. Kemanakah mereka? Tidak pernah
lahirkah? Sebenarnya banyak. Dua persen dari anak yang lahir, adalah
kelompok jenius. Tetapi mereka hilang ditelan perkembangan kebudayaan
yang lebih banyak peraturannya, pendidikan yang seragam, pemeriksaan
anak balita yang lebih teliti, yang semuanya mengacu pada norma
normal, sehingga mereka nampak sebagai anak tidak normal, bahkan
terdiagnosa berbagai macam gangguan perkembangan.

Misalnya saja yang dijelaskan oleh kelompok psikolog ahli anak-anak
gifted Amerika dalam pertemuan tahunannya di Washington Agustus
tahun lalu, yang menjelaskan bahwa akhir-akhir ini di Amerika terjadi
banyak kesalahan diagnosa pada anak-anak maupun dewasa gifted dan
berbakat. Kesalahan ini bukan saja dilakukan oleh psikiater, dokter
anak, tetapi juga oleh psikolog sendiri, maupun tenaga kesehatan
lainnya. Tersering mereka terdiagnosa sebagai autis asperger, PDDNOS,
Attention Deficit Hyperactivity Disoredr (ADHD), Oppotitional Defiant
Disorder (OD), Obsessive Compulsive Disoredr (OCD), dan Mood
Disoreder seperti Cyclothymic Disorder, Dysthymic Disorder,
Depression, serta Bi-Polar Disorder. Kesalahan diagnosa ini umumnya
karena mereka memiliki karakteristik perkembangan sosial dan
emosional yang diasumsikan secara keliru oleh kelompok profesional
yang kemudian digolongkan sebagai kelompok anak-anak yang menyandang
gangguan perkembangan yang patologis.

Sementara itu anak-anak itu adalah anak-anak yang mempunyai
resiko psikologik apabila dorongan atau motivasi internalnya yang
kuat untuk mengembangkan intelektualnya terhalangi dan tidak
tercapai. Resiko ini berupa jatuhnya ia ke dalam masalah-masalah
psikologis seperti depresi yang dalam, perilaku menarik diri, rendah
diri yang hebat, atau sebaliknya menjadi anak yang sangat sulit
diatur, selalu melawan, dan agresif.

Seorang yang ternyata dewasanya jenius namun kecilnya penuh
duka lara, adalah Alice Miller, yang tahun 1979 mulailah ia
menuliskan kisahnya dalam sebuah buku berjudul: Das Drama des
begabten Kindes und die Suche nach dem wahren Selbst – Eine Um-und
Fortschreibung (Kisah drama seorang anak jenius- dalam mencari jati
dirinya). Duka lara Alice Miller berawal dari diagnosa para
profesional yang menyatakan bahwa dirinya menderita penyakit jiwa
bawaan yang menurut para dokter akan terus diidapnya seumur hidupnya.
Karena itu ia harus menjalankan berbagai terapi yang dimaksudkan
untuk mengurangi gangguan itu. Emosinya yang meledak-ledak segera
diredam dengan berbagai tablet psikotropika. Dia juga pada akhirnya
mengalami depresi yang berat, rasa malu, dan rendah diri, serta tak
mampu lagi bergaul. Pada waktu ia bisa menyelesaikan sekolah
psikologinya, ia menyadari bahwa diagnosa yang diterimanya keliru,
sehingga ia sibuk melakukan rehabilitasi diri guna menyembuhkan luka
dari berbagai terapi semasa kecilnya itu, yang ia rasakan sebagai
penganiyayaan psikologis. Buku Alice Miller yang mengharukan, detil,
dan memberi pengertian akan artinya bimbingan pada anak-anak jenius
ini, laku keras, hingga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda
saja sudah dicetak ulang pada tahun 2000 hingga yang ke 23 kalinya.
Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.

Duka lara akibat perkembangan khusus pada anak-anak jenius ini,
nampak sejak ia dilahirkan. Ia merupakan bayi yang besar dengan
ukuran kepala yang besar, sehingga kebanyakan anak-anak ini lahir
bukan dengan cara normal tetapi ditarik dengan tang, vacum, atau
melalui pembedahan. Sejak bayi ia mengalami alergi susu yang berat,
yang menyebabkan kulitnya penuh eksim, serta alergi berbagai macam
dan tidak spesifik. Selain alergi berbagai makanan dan sayuran, ia
juga alergi matahari, cuaca dingin, obat-obatan, plastik, logam,
pakaian nilon, dan sebagainya. Alerginya bukan hanya di kulit , bisa
berupa mencret dan sembelit, tidak bisa bersendawa, batuk pilek,
radang telinga, radang mata, dan asma. Dalam pemeriksaan darah
laboratorium sering ditemukan anak-anak ini memiliki berbagai angka
laboratorium yang berbeda dengan angka rata-rata anak normal. Terlalu
tinggi atau terlalu rendah. Nampak seolah ia menderita kekurangan
berbagai mineral dan vitamin dalam tubuhnya. Ususnya juga mempunyai
anatomis yang berbeda, yang menunjukkan seolah ia memiliki dinding
usus yang vili-vilinya (papil-papil yang halus di permukaan usus yang
berfungsi mengarbsorbsi makanan) seperti rusak. Karenanya banyak
anak-anak ini yang mengalami gangguan penyerapan makanan, dan
kekurangan enzym pencernaan. Ia juga mempunyai masalah dalam
pemilihan jenis makanan yang disukainya. Pada saat balita anak-anak
ini penciumannya belum bekerja baik untuk mencium enaknya bau
makanan. Ia sangat peka dalam penglihatan, dan mempunyai sifat yang
sangat perfeksionis. Sehingga dalam memilih makanan anak-anak ini
hanya memilih satu jenis makanan dengan satu warna yang bagus dan
bentuk yang bagus. Karena itu sebagian anak-anak ini berbadan terlalu
kurus dengan kepala dan jidat yang besar, atau berbadan besar. Meski
ia hanya makan dengan jumlah yang sedikit dan hanya itu-itu saja,
selain karena alergi, boleh dikata ia anak yang nampak sangat sehat,
tidak mudah jatuh sakit, dan bergerak terus tidak capai-capainya.

UNDERPRESTASI
Anak-anak ini mempunyai kemauan internal yang sangat kuat, ia keras
kepala, tetapi tidak tahan rutinitas. Dan usia SD kelas satu atau
kelas dua, yang menonjol justru keras kepala dan motivasi internalnya
yang besar. Dengan begitu ia tidak tertarik mengikuti kegiatan
belajar di sekolah yang ia rasa hanyalah melelahkan karena terlalu
rutin. Melihat hal ini guru seringkali justru menudingnya sebagai
anak yang tidak cerdas. Terlebih anak ini tidak mau mengulang
kebolehannya, dan tidak bisa disuruh menunjukkan kebolehannya. Banyak
diantara orang tua yang bercerita bahwa anaknya bisa membaca dan
berhitung, tetapi jika di test di sekolah, ia bungkam seribu bahasa.
Ia adalah anak yang didaktif, bukan anak yang deduktif. Kemampuan
pengembangan intelektualnya adalah atas dasar motivasi internalnya,
dan tidak bisa diajari, atau tidak mau diajari.

Sifatnya yang perfeksionis menyebabkan ia tidak mau mengerjakan tugas
memberi warna pada figur-figur dengan potlod berwarna. Ia merasa
hasil pekerjaannya sangat jelek, tidak seindah contohnya yang dibuat
oleh percetakan. Perkembangan motorik halusnya juga mengalami
keterlambatan perkembangan sehingga ia bagai tidak kuat memegang
pinsil barang semenitpun. Jari-jarinya cepat lelah, dan hasil latihan
menulisnya sungguh sangat jelek. Mencong-mencong, tidak lurus, dan
bergelombang. Melihat hasil ini semua, lagi-lagi sifat
perfeksionisnya menyebabkan ia frustrasi merasa bagai anak terbodoh
di dunia. Ia trauma atas pekerjaannya yang tidak memenuhi harapannya.

Di kepalanya selalu berkumai gambaran yang indah, dan tulisan yang
indah, tapi kenyataannya jauh dari harapannya.
Banyak di antara anak-anak ini juga mengalami disleksia, yaitu
gangguan perkembangan syaraf dan bola mata. Seringkali anak-anak ini
memerlukan koreksi karena matanya astigmatis. Disleksianya
menyebabkannya melihat huruf terbalik-balik, dia bingung mana yang p
dan mana yang q, atau mana yang d dan mana yang b. Disleksianya
menyebabkan ia tidak mengerti lagi harus menulis dari sebelah kiri
atau kanan, akhirnya ia mengalami gangguan menulis, membaca, dan juga
berhitung. Lengkaplah penderitaannya, jika ia dituntut bagai anak
normal. Apalagi jika dijatuhi vonis bahwa ia mempunyai kemampuan
atau kecerdasan di bawah rata-rata. Dan lebih ironis lagi, jika
setiap sore dia dituntut oleh orang tua untuk mengambil les menulis
dan berhitung, serta di rumah dipaksa belajar setengah mati.

Anak-anak jenius, masa kecilnya terbanyak memang underprestasi, maka
ia disebut gifted with learning disabilities. Dia memiliki kemampuan
yang tak seimbang, antara kemampuan mondeling dan aktivitasnya. Pada
anak-anak yang sudah baik kemampuan berbicaranya, biasanya akan lebih
baik dalam test-test mondeling daripada menulis. Dalam test-test
kemampuan dalam IQ test, pada anak-anak jenius yang mempunyai
keterlambatan perkembangan bicara, test kemampuan verbalnya
menunjukkan skor yang sangat rendah, sedang skor performalnya tinggi,
dan skor kreativitas rendah. Gambaran seperti ini persis sama dengan
gambaran IQ anak-anak autis. Namun skor kreativitas rendah bukan
disebabkan ia tidak kreatif, tetapi lebih disebabkan karena ia
menderita tidak percaya diri sebagai akibat dari frustrasi terhadap
hasil karya dan perfeksionismenya. Di Belanda untuk anak-anak seperti
ini, dilakukan suatu test yang disebut faalangst test, dari sini
terlihat bahwa ia menderita faalangst, atau ketidak percayaan diri
dan takut berbuat salah (bang om fout te maken).

Pada anak-anak jenius yang sebetulnya sangat sangat jenius yang
kemudian disebut profound gifted, justru seringkali terdiagnosa
sebagai autis yang mental retarded. Ia menderita disleksia yang
sangat berat, mengalami keterlambatan bicara yang sangat tertinggal
sekali, dan baru mulai belajar bicara diusianya yang ke enam atau ke
tujuh bahkan ke delapan. Ada yang sangat terlambat dalam
perkembangan motorik kasarnya, dan mulai berjalan pada usia 4 tahun.
Ia bagai benar-benar anak mental retarded yang hidup dalam dunianya
sendiri, dan sangat tergantung pada orang di sekitarnya. Satu-
satunya yang mampu membedakannya bahwa ia bukan mental retarded dan
bukan autis, adalah ia mampu membangun hubungan emosi dan cinta
kasih dengan orang tuanya atau orang lain, dan mampu berbahasa
isyarat.

GEJALA BALITA JENIUS
Gejala balita jenius, di Belanda, oleh kelompok dokter,
psikolog dan orthopedagog yang berkecimpung dalam tumbuh kembang
balita telah dipelajari sejak lebih dua puluh tahun lalu. Hasilnya
telah banyak dipublikasikan dalam buku-buku panduan bagi orang tua,
maupun buku-buku pelajaran bagi dokter, psikolog, guru, dan tenaga
sosial. Boleh dikata bahwa pengetahuan gejala balita jenius yang di
Belanda populer dengan sebutan hoogbegaafde kindren nyaris menjadi
pengetahuan umum dalam masyarakat. Buku-buku berisi kisah-kisah
orang tua yang memiliki anak balita gifted telah juga banyak
diterbitkan. Mailing list, website, dan majalah yang merupakan kontak
komunikasi antara orang tua dan tenaga profesional telah pula banyak
dikembangkan oleh masyarakat. Sehari-hari juga banyak tenaga sosial
yang berlatar belakang psikolog dan orthopedagog secara sukarela
membantu keluarga-keluarga yang terbingung-bingung menghadapi
anaknya. Mereka bisa diundang ke rumah, turut mengamati anaknya,
tanya jawab, memberikan nasihat, mencarikan bacaan, menunjukkan
jalan, dan membimbing mencarikan instansi-instansi yang berkaitan.

Sekolah khusus yang didirikan oleh lembaga-lembaga swasta
yang ditujukan untuk anak-anak jenius ini juga banyak berdiri dimana-
mana, hampir di tiap kota ada. Namun pemerintah tetap memanfaatkan
openbaar basis onderwijs-nya (sekolah dasar) yang dimulai secara
wajib di usia empat tahun. Sekolah dasar ini dilengkapi dengan guru
yang mendapat brevet khusus untuk pendidikan anak jenius, serta
dilengkapi juga dengan materi dan program pendidikan anak jenius.
Dalam sekolah-sekolah umum ini anak-anak jenius disosialisasikan
secara maksimal bersama anak-anak normal lainnya, dengan tujuan ia
mampu membangun dirinya sebagaimana anggota masyarakat normal.
Anak-anak jenius yang telah selesai masa pendidikan sekolah dasarnya
bisa melanjutkan ke sekolah yang memang disediakan untuk anak-anak
yang mempunyai kecerdasan luar biasa, yaitu atenium.

Meski gejala balita jenius telah dikenal secara luas, namun
toh banyak diantara orang tua yang tidak menyadari bahwa anaknya
adalah anak penyandang gen jenius. Karena orang tua sering tidak
menyangka bahwa anaknya mempunyai kemungkinan sebagai anak jenius.
Baru setelah timbul berbagai masalah yang umumnya timbul di sekolah,
barulah anak-anak ini betul-betul mendapt perhatian.

Semakin populernya DSM IV (Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorder) tahun 1994 dari American Psychiatric
Assosiation anak-anak gifted ini terjaring dalam berbagai diagnosa
gangguan mental dan mendapat terapi sebagaimana diagnosa itu. DSM IV
yang dikeluarkan tahun 1994 itu, pada tahun 1998 barulah mulai
dipopulerkan di Belanda, yang dalam dua tahun saja terjaringlah
sebanyak 65.000 (20 persen) anak usia di bawah 10 tahun dinyatakan
sebagai ADHD, ternyata sebagian besarnya bukan penderita ADHD,
memang. Sehingga awal tahun ini pemerintah Belanda menyetop
penetapan diagnosa yang begitu dini dapat dijatuhkan pada seorang
anak. Setelah melalui pengamatan yang panjang berbulan-bulan yang
dibantu oleh orang tua, guru, psikolog dan petugas sosial, serta
berbagai test, barulah diagnosa itu ditegakkan.

Karena masih terjadi kesalah diagnosa semacam itu, untuk
mencegahnya, kini kepada seluruh balita Belanda telah digunakan
status yang disebut status van Wiechen ontwikkeling onderzoek. Dengan
menggunakan status ini segera dapat diketahui apakah anak mempunyai
perkembangan yang tertinggal atau justru lebih cepat (mengalami
loncatan perkembangan). Pada dasarnya, perkembangan dan pertumbuhan
balita gifted ini mengikuti norma yang skalanya besar, waktunya
singkat, sayangnya tidak sinkron. Sehingga nampak setiap
perkembangannya bergelombang dengan skala yang besar, meledak ledak,
tetapi jangka waktunya tidak lama (tidak melebihi dua bulan), namun
berkembang satu-persatu yang kemudian menjadikan nampak tidak
harmonis dengan berbagai perkembangan yang seharusnya ada dimasa
balita.

Gejalanya bisa diikuti sejak bayi itu dilahirkan, yaitu
merupakan bayi yang sehat, berat dan mepunyai APGAR skor antara 9 –
10 pada menit-menit pertama. Ia mempunyai pertumbuhan berat badan
yang sangat pesat di bulan-bulan awal, tetapi tiba-tiba berkembang
secara tenang saat ia mulai banyak gerak. Mempunyai perkembangan
motorik yang hebat luar biasa, terkadang tidak melalui masa
merangkak, atau masa berjalan, terus berlari. Mampu manjat-manjat,
menarik barang berat, dan sangat kuat. Mempunyai otot-otot yang
sangat kencang. Periang, mempunyai rasa humor yang tinggi dan senang
meledek dan bercanda-canda. 

**********************************

Julia v. Tiel
anakberbakat@yahoogroups.com
http://si-entong.blogspot.com/

…But I’m a Parent, NOT a professional!

April 9th, 2005 by amandaiko

Q. I am a parent of a late talking child. I have not train to be a speech therapist or a teacher, so I rely on professionals to teach my child to talk. Now, I find that many professional have little training with non-talking children. What can I do?

A. I hear this question very often. A major purpose of Communicating Partners is to educate parents and professionals to work together on goals and strategies that focus on making children communicative persons before compliant students.

Please remember a few things about language development:
• Your child can learn to communicate in every daily contact with people, not only in school

• You as a parent know more about your child than almost anyone.

• Teachers and therapists have many jobs to do; language is only one of them

• Communication and social skills are best learned at home.

• Many parents have helped their late talking children communicate

Try to understand the many often conflicting jobs teachers and therapists and help them and your child be working with them. Many of the Communicating Partners programs are designed for parents to use with professionals. Language and communication is one subject that cannot be learned only in school.

Therapists and teachers can certainly help but you as a parent have much more opportunities to make your child first interactive, then communicative, then verbal. Please do not expect that isolated therapy sessions one or twice a week will by enough for your child to become social and communicative.

The more you participate in this training the more your child will learn these natural goals that are often assumed to exist when children enter school. Communicate openly and frequently with the professionals and your child will benefit greatly. No one can accomplish the big job of social and communicative development on their own.

Dr. James MacDonald

Keterlambatan Bicara

April 9th, 2005 by amandaiko

Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan yang diajukan kepada e-psikologi. Untuk itu lah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.

Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya. Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan. Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.

Untuk memahami lebih lanjut tentang keterlambatan bicara, maka Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak perlu mengetahui beberapa hal sebagai berikut:

Apa yang dimaksud dengan keterlambatan bicara dan apa faktor penyebabnya ?

Pemeriksaan atau evaluasi seperti apa yang perlu dilakukan jika orangtua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara ?

Apa saja tahap-tahap perkembangan kemampuan bicara dan apa yang harus dilakukan oleh orangtua pada tahapan tersebut ?   

Gangguan Keterlambatan Bicara dan Faktor Penyebab
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.

Penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti :

1.   Hambatan pendengaran

Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.

2.   Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor

Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

3.   Masalah keturunan

Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.

4.   Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua

Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

5.   Faktor Televisi

Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

Evaluasi dan Pemeriksaan

  Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek :

   

  1.   Fisiologis dan Neurologis

  Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.

  2.   Psikologis

  Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.

  Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.

   

  Kemungkinan Pulihnya Kembali Kemampuan Bicara & Berbahasa    

  Sebenarnya, jika sejak awal hambatan bicara ini sudah didiagnosa secara tepat, dan jika pihak keluarga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan dukungan bagi program pemulihan si anak, maka akan besar kemungkinan bagi si anak untuk kembali memiliki kemampuan yang normal. Meski pada proses awal akan terkesan lamban, namun kemungkinan besar masalah keterlambatan bicara akan teratasi ketika anak mulai memasuki sekolah dasar.   

  Pada kasus-kasus tertentu  dimana hambatan bicara dan ber bahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis. Sebenarnya hal ini masih bisa didiagnosa dan dilakukan penanganan yang tepat supaya kemampuan tersebut akhirnya berkembang seperti anak-anak lain seusianya.

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa
Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain.  Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:

——————————————————————————–

  0 - 8 Minggu

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.

Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.

Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :”rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,….coba biar Ibu lihat…”

 
——————————————————————————–
8 - 24 Minggu

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh”, “ah”, “uh”, “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m”, “p”, “b”, “j” dan “k”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga”, “ah goo”, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma”, “ka”, “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.

Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.

Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.

Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam”

 
——————————————————————————–
28 Minggu - 1 Tahun

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba”, “da”, “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye” atau main “ciluk-baa”. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti “guk”, “kuk”, “ck”

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.

Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”

Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.

Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.

 
——————————————————————————–
1 Tahun - 18 Bulan

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.

Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang “eye catching”. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.

Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya

Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu

 
——————————————————————————–
18 Bulan - 2 Tahun

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana ?”, “dimana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak”, “disana”, “disitu”, “mau”. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti “punya ani”, “punyaku”. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya “balon” jadi “aon”, “roti” jadi “oti”

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti “baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis”, dsb

Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb

Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.

Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress

 
——————————————————————————–
2 Tahun - 3 Tahun

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku”, “saya” “kamu” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.

Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.

Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu.

 
——————————————————————————–
3 - 4 Tahun

   
  Perkembangan Kemampuan Berbicara dan  Bahasa
  Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti “kenapa dia Ma ?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana ?”

   
  Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.

Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.

Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.

Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.

Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari. (jr)

*********************************

Oleh Jacinta F. Rini

Team e-psikologi

BELAJAR atau MAIN?

April 9th, 2005 by amandaiko

  Sengaja saya beri tanda tanya di judul karena bermain ternyata masih menjadi topik hangat. Topik ini seringkali dikaitkan dengan berbagai keterbatasan yang saat ini dimiliki anak, lepas dari kesadaran bahwa “anak belajar sambil bermain”. Dalam setiap pertemuan dalam seminar-seminar pendidikan, selalu ada saja orang tua yang mempermasalahkan “waktu”, “kesempatan” dan “jenis permainan” yang dimiliki anaknya.

Dari segi keterbatasan waktu untuk bermain, ada beberapa hal yang sering diungkapkan. Mula-mula, kesempatan bermain di sela-sela tugas sekolah yang sangat banyak. Beberapa kasus yang didiskusikan memperlihatkan bahwa seringkali sekolah memberikan Pekerjaaan Rumah dan Ulangan ataupun tugas-tugas extra di antaranya yang sangat menyita waktu. “Sudah sampai di rumah sore karena jalan macet, masih harus mengerjakan PR, menyelesaikan tugas dan siap-siap untuk ulangan! Kapan bisa main?” Maka sekolah kemudian dibicarakan sebagai penghambat kebutuhan anak. Sebegitu beratnya beban sekolah, nampaknya, sampai orangtua pun kadang-kadang ikut repot menyiapkan tugas sekolah anak-anak mereka. Saat hal semacam ini terjadi, sesungguhnya orangtua perlu jeli melihat masalah. Apakah betul semua tugas itu dibebankan pada anak setiap saat? Atau, mungkinkah anak masih harus dibantu mengatur waktunya?

Tumpukan tugas memang merupakan beban bagi anak. Tetapi porsi-porsi kecil sangat bisa direncanakan dengan memasukkan kebutuhan anak bermain. Misalnya saja, seberapa jauh ulangan, pekerjaan rumah dan tugas extra bisa disiapkan dengan cara tugas kelompok? Dengan belajar bersama sesungguhnya anak bisa saling belajar dari temannya. Bahkan anak yang mengajarkan pun sebetulnya tengah menajamkan pemahaman konsepnya. Dan siapakah yang bisa membentuk kelompok belajar ini? Di sini mungkin kerjasama guru dan orangtua sangat diperlukan. Dengan mengatur berdasarkan letak rumah, sehingga jarak dan kemacetan tidak terlalu menjadi masalah, anak diberi kesempatan bekerjasama dengan teman sebaya.

Kesempatan bermain juga seringkali dipertentangkan dengan waktu yang sudah habis untuk les ini dan itu. Padahal pertanyaannya selalu adalah, mengapa les diberikan? Apakah anak membutuhkannya? Apa ukuran kebutuhan anak? Apa sesungguhnya masalah yang dihadapi anak sehingga les dibutuhkan? Apa yang ingin dicapai dan pernahkah dievaluasi? Pertanyaan semacam ini perlu dijawab terlebih dahulu sebelum menunjuk les sebagai penyebab hambatan anak bermain.

Keterbatasan “stock” teman sebaya juga ditunjuk sebagai penghambat. “Di sekitar rumah kami tidak ada anak sebaya.” Atau “Kalaupun ada teman sebaya, setiap anak kelihatannya tidak diperbolehkan keluar rumah!” Dengan situasi semacam ini maka orangtua terpaksa lebih aktif mencari kesempatan di sela-sela keterbatasan. Bila memang tidak ada anak sebaya di sekitar rumah maka nampaknya akhir pekan merupakan saat paling tepat untuk merencanakan kegiatan bersama saudara atau teman yang memiliki anak sebaya. Secara bergantian setiap rumah yang bersepakat bisa menjadi tuan rumah untuk kegiatan bersama itu. Namun, kalau di dekat rumah masih ada anak sebaya yang “disimpan” karena alasan apapun, apa boleh buat, orangtua terpaksa mengetuk rumah tetangga dan menawarkan kemungkinan anak-anak saling berkunjung. Tidak mudah untuk memulainya, apalagi bila kebutuhan bermain bersama teman sebaya tidak terlalu dirasakan oleh tetangga tersebut. Tetapi, setidaknya kita sudah melakukan upaya maksimal bukan?

Sisi lain dalam bermain yang juga sering dibicarakan dalam pertemuan orangtua adalah “jenis” permainan. Kerap terjadi perdebatan mana yang lebih bagus untuk perkembangan anak, bermain dengan computer game dan play station atau bermain di luar rumah dengan teman sebaya. Dalam perdebatan semacam ini, sebetulnya tidak ada kegiatan yang bisa dipandang paling bagus. Titik terpenting justru adalah pada pengenalan orangtua pada kebutuhan anak mereka masing-masing. Keseimbangan permainan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi anak secara maksimal. Artinya, setiap ragam permainan yang mengembangkan berbagai kecerdasan pada anak tentu dibutuhkan. Melalui pengamatan, setiap orangtua akan mengetahui pengembangan yang masih perlu didorong pada anak yang satu yang mungkin berbeda dari anaknya yang lain.

Dalam jenis permainan, salah satu yang perlu diwaspadai adalah bilamana kita memiliki bias gender yang mengkaitkan jenis yang “pantas” berdasarkan jenis kelamin anak. Seringkali kita panik saat anak laki-laki kita ikut main masak-masakan atau bermain boneka dengan teman perempuannya. Padahal, di masa depan, anak lelaki itu akan menjadi seorang ayah dan mungkin koki merupakan salah satu pilihan pekerjaan yang akan diminatinya. Sebaliknya, orangtua juga cemas saat anak perempuan bermain pistol dan balok. Permainan ini dipandang mengurangi sifat keperempuanan anak. Padahal, begitu banyak tentara dan polisi wanita sekarang ini, dan juga pekerjaan lain yang membutuhkan kemampuan pandang ruang dan konstruktif pada seseorang. Baik sekali bagi anak untuk mempunyai kesempatan bermain dengan berbagai kemungkinan permainan di lingkungannya tanpa batasan jenis kelamin. Karena dengan demikian anak juga belajar bahwa semua profesi bisa dilakukan di masa depannya.

Bila kita mempunyai kesempatan untuk mengamati anak dengan baik, ternyata untuk membuat anak senang bermain sama sekali tidak dibutuhkan kegiatan muluk. Adanya binatang yang bisa diamati, disentuh, disayang atau dibicarakan sudah menjadi salah satu bentuk permainan yang menyenangkan. Memetik berbagai jenis daun di halaman dan menempelkan bersama merupakan tantangan untuk keterampilan dan sekaligus kemampuan kerjasama anak. Bermain dengan bola di pojok halaman rumah, menggambar bersama di sela kursi tamu meski tidak ideal, tetapi toh dikerjakan dengan nyaman oleh anak, bahkan bermain congkelak di antara jambangan mahal milik ibu, ternyata tidak menjadi halangan kesenangan mereka. Belum lagi bila disebutkan pengamatan alam sekitar, misalnya saja mengamati bentuk awan di langit dan membicarakan apa yang dilihat dari awan tersebut.

Artinya, bermain memang sangat terbuka dan sebetulnya tidak membutuhkan waktu, kesempatan dan modal banyak. Sehingga, mungkin bisa dipikirkan bersama, jangan-jangan kesulitan yang dirasakan hanya berasal dari pembatasan kata “bermain” itu sendiri. Jangan-jangan kita lupa bahwa dalam dunia anak, apapun dan kapanpun bisa dijadikan bahan dan kesempatan untuk bermain.  ¤¤¤

********************************************

[ Henny Supolo | Nopember 2003 ]

Kapankah Anakku akan Mulai Bicara?

April 8th, 2005 by amandaiko

Entah sudah berapa sering saya mendapat pertanyaan di atas, sepanjang perjalanan karir saya selama 20 tahun sebagai ahli patologi bahasa. Sepertinya, para orangtua menunggu munculnya kemampuan berbahasa pada anak-anak mereka seperti menunggu sebuah angkutan umum. Mereka merasa tidak memiliki kontrol untuk mengetahui kapan kemampuan itu akan muncul. Namun justru sebetulnya, kemampuan berbahasa pada anak sangat dipengaruhi oleh orangtuanya.

Secara umum, di’rumus’kan bahwa seorang anak akan mengucapkan kata pertamanya antara usia 10 sampai dengan 18 bulan. Tidak ada tabel waktu yang bisa secara persis menyatakan kapan seorang anak akan bicara. Cukup banyak anak yang mulai berbicara di usia lebih dari 18 bulan dan masih terus mengembangkan kemampuan berbahasanya, terutama dalam hal percakapan. Kita juga sering luput mengamati, bahwa anak anak-anak yang bicara dengan orang tertentu, tetapi tidak dengan yang lainnya. Nah, ketika pada usia ke-2 anak terlihat tidak menggunakan kata-kata dalam bermain dan memenuhi kebutuhan / keinginannya, maka kita harus teliti menelaah bagaimana kemampuannya dalam pra-berbahasa.

Oleh karena itu, pertanyaan yang harus diajukan sebenarnya adalah ; "apa yang dibutuhkan dan harus dilakukan oleh seorang anak sebelum ia bisa bicara dan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi?"

Dari pengalaman bertahun-tahun mewawancarai para orangtua, saya bisa membuat kesimpulan bahwa kebanyakan orangtua menganggap kemampuan anak berbahasa muncul secara otomatis, seperti halnya tumbuhnya rambut, bertambahnya berat badan dll, tanpa harus ada bantuan khusus dari orangtua, anggota keluarga maupun orang yang sehari-hari berhubungan dengan si anak. 

Jadi apabila Anda cemas bahwa anak Anda terlambat bicara, saya harap Anda tidak berpikir bahwa kemampuan bahasanya akan tumbuh sendiri tanpa bantuan Anda, seperti halnya tubuhnya yang tumbuh dan berkembang tanpa bantuan Anda

Untuk dapat mengembangkan kemampuannya bicara dan berbahasa, Anak Anda perlu memiliki beberapa kebiasaan yang kita, orang dewasa tak pernah pikirkan sebagai kebiasaan yang dibutuhkan untuk dapat berbicara. Kebiasaan tersebut antara lain adalah bermain dengan orang lain, bermain secara bermakna dengan benda-benda yang ada, meniru, bergiliran / bergantian, melakukan interaksi (timbal balik), berkomunikasi secara non-verbal, dan menikmati hubungan dengan orang lain.

Seringkali orangtua membawa anaknya yang berusia 3,4,5,6 tahun atau lebih untuk menemui saya dengan keluhan bahwa mereka belum bisa bicara atau kalaupun bicara hanya bicara sendiri saja. Para orangtua ini biasanya merasa bahwa mereka sudah melakukan segala hal yang bisa mereka lakukan, dari mulai mengajak bermain sampai mengajarkan bicara, sebagaimana mereka melakukannya dengan anak-anak mereka yang lainnya. Tetapi karena segala cara itu tak juga berhasil, maka mereka menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anak mereka tersebut.

Beberapa keluhan dari para orangtua yang lazim saya temui adalah :
"Anakku tidak bermain seperti halnya anak lain bermain"
"Dia jarang memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya"
"Ia tidak tertarik pada hal-hal baru"
"Apa yang dia lakukan, pasti dilakukannya berulang-ulang"
"Dia mendapatkan apa yang dibutuhkannya dengan cara menuntun kami ke hal yang dia inginkan atau dengan membuat suara-suara yang tidak jelas"
"Anakku tidak menikmati kebersamaan dengan orang lain jika tanpa kegiatan"
"Anakku lebih senang menyendiri"
"Ia tidak mempedulikan orang lain"
"Dia tidak bisa bermain bersama dengan sesamanya"

Semua keluhan di atas menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan dari pada orangtuanya mengenai anak-anaknya yang belum berbicara.

Jadi, apakah jawaban dari pertanyaan "Kapan Anakku Akan Bicara?" Dari pengalaman saya mengikuti perkembangan kemampuan berkomunikasi anak-anak di lebih dari 500 keluarga, maka jawabannya adalah -Ketika anak-anak itu sudah mengembangkan hubungan dengan orang-orang yang masuk ke dalam dunia mereka dan menjadi mitra mereka yang memiliki laju kecepatan sama dengan mereka.

Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada para orangtua untuk berhenti berharap Anaknya dapat sekonyong-konyong bicara. Sebaliknya, saya meminta mereka untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri dan mereka akan menemukan betapa besar kekuatan yang mereka miliki untuk membantu anak mereka bicara. Tujuan utama saya adalah mengajarkan para orangtua apa yang anak mereka butuhkan sebelum bicara dan yang sama pentingnya, mengjarkan mereka cara-cara ALAMI untuk mengubah diri mereka sehingga anak bisa lebih banyak belajar BERSAMA dengan mereka.

Sekarang saya akan mengingatkan Anda tentang beberapa hal penting yang Anda dan anak Anda dapat lakukan secara rutin. Hal ini telah membantu anak-anak lain mempersiapkan diri mereka untuk bicara. Perhatikanlah, ketika Anda membaca daftar di bawah ini Anda mungkin akan mengatakan dua hal; Pertama, bahwa Anda dan anak anda telah melakukan hal-hal tersebut. Mungkin saja pernyataan Anda itu benar, tetapi mungkin saat melakukannya, anak Anda belum siap menjadikannya suatu kebiasaan rutin. Kedua, anda mungkin mengatakan bahwa hal-hal ini dilakukan hanya oleh anak-anak usia bayi, sementara anda merasa bahwa anak anda sudah besar, lalu anda tidak merasa ingin melakukan hal-hal seperti itu lagi. Jika itu pernyataan Anda, maka jawaban saya adalah bahwa anak, dalam usia berapapun, dapat belajar mengenai hal-hal yang mereka tidak pernah pelajari sebelumnya, asalkan mereka memiliki mitra yang antusias untuk mendukung dan melakukan kegiatan itu bersama-sama.

Lihatlah daftar di bawah ini, lalu dengan menggunakan skala 1 sampai 5 (1=tidak pernah, 3=jarang, 5=rutin dilakukan) tulislah berapa sering hal ini dilakukan

YANG PERLU DILAKUKAN OLEH ANAK
Sering bermain dengan orang lain
Bermain dengan benda-benda secara bermakna (telpon2an, masak2an, minum teh, mengendarai mobil dll)
Menirukan tingkah laku dan bunyi-bunyian orang lain
Bergiliran / bergantian
Berinteraksi dengan orang lain, secara berkala semakin lama jangka waktunya
Menggunakan bahasa tubuh dan bunyi-bunyian dalam berkomunikasi
Aktif terlibat dalam permainan dengan orang lain dan menikmatinya
Menunjukkan minatnya terhadap hal-hal yang baru

YANG PERLU ANDA LAKUKAN
Sering bermain, sesering anak Anda
Menyamai gerak-gerik dan cara komunikasi anak
Menunggu - memberi waktu kepada anak untuk melakukan gilirannya dalam berinteraksi
Menunjukkan kepada anak, langkah selanjutnya
Bergiliran dan membiarkan giliran anak lebih lama dibanding Anda
Merespon terhadap setiap gerakan dan bunyi yang dibuat anak, sekecil apapun itu
Menjadikan permainan sebagai suatu hal yang menyenangkan dan bukan sebagai pelajaran / keharusan

Dr. James MacDonald

Disadur bebas (HS 9/03)
————————————————————————————————————————————–

When Will My Child Talk?

In my work with families for over 20 years, I have heard this question perhaps more than many others. Often parents wait for language as they would wait on a bus, sensing no control over when it comes. Unlike when a bus comes, the onset of language is usually something parents have influence to a very great extent.

When do children begin to talk a little? Under usual circumstances, we expect a child’s first words around 10-18 months. There is no set time table and many children begin much later and still develop good language for conversation and learning. And, a child may talk with some persons and not others. If a child is not using words to play and get needs met by age two, roughly, we want to look at how he is doing in those skills he needs before language.

So another common question is, "What does a child need to do before she regularly talks and learns language on her own?"

After years of interviews with parents, I conclude that many parents believe that language just comes automatically like hair and height, with no special help from families other than general care taking. While it is true that human beings do have a unique ability to talk as part of their genetic programming, language just doesn’t happen on it’s own; a child needs close contacts with people who do things she can do.

So, if you are concerned that your child may be slow to talk, I recommend that you do not expect that she is just going to grow into language without your help as she seems to grow into new clothes without specific help.

To develop a really useful language for friendship and learning, your child needs to get into several habits that we do not often think of as necessary to talk. Some of these habits are playing with people; playing meaningfully with things; imitating; turntaking; staying in
interactions; communicating without words; genuinely enjoying contact with people and others.

Frequently, parents bring me children 3, 4, 5, 6, or years older, who either have not begun talking or talk mainly for themselves. These parents often feel they have done all the regular play and teaching that they gave their other children, and they conclude that something is wrong in the child.

Some very common parent reports happen over and over with many different kinds of children. "He didn’t play like other children." "He pays little attention." "He isn’t interested in new things." "He repeats a lot of things." "He gets what he needs by taking us there or making unclear sounds." "He doesn’t enjoy close quiet time with people." "He prefers to be alone." "He often ignores people." "He can’t seem to keep up with others." All of these common comments by parents reveal a genuine concern, and often anxiety, that their child is not learning to talk.

So, what’s the answer to the question, "When will my child talk?" In my experience following the communication development of children in over 500 families, the answer is-When they develop certain kinds of relationships with people who enter their world and become partners with them at their pace.

I have encouraged many parents to stop expecting language to come "out of the blue", and instead to look at themselves and the remarkable power they have to help their child to talk. A major goal of mine has been to teach parents what children need to do before language and, just as importantly, to teach them natural ways they can change themselves to help their child learn more with them.

For this short letter, I will alert you to some very important things both you child and you can do regularly that have helped other children get ready to talk. Notice that when you read the list you may say two things; first, that he and you have done these things already. That may well be true, but at the time your child may not have been ready to make it a habit or not yet done it on a regular, steady basis. Second, you may say, those are baby things my child is a big girl now, and I don’t want to go back. My answer to that is that children of all ages can learn things they did not learn at earlier stages if they have enthusiastic partners to support and coach them.

With the list below, rate yourself and your child from 1-5, with 1 meaning never, 3 indicating occasionally, and 5 showing things you do consistently.

WHAT THE CHILD NEEDS TO DO
Play frequently with people
Play meaningfully with things
Imitate others’ actions and sounds
Take turns
Stay increasingly longer with people
Use gestures and sounds to communicate
Actively enjoy playing with people
Show interest in new things

WHAT YOU NEED TO DO
Play frequently as your child does
Match child’s actions and communications
Wait–give child time to do his part
Show child a next step
Take turns and keep child longer
Attend to little steps like sounds & gestures
Make play more fun than work
Expect your child to do more

Dr. James MacDonald

Untuk Putriku

April 8th, 2005 by amandaiko

Putriku tercinta,
dalam hitungan hari
kaki kecilmu akan menjejak ke dalam abad baru

Jika bisa membisik pinta,
Ibu ingin
engkau tetap bemain di bawah terik mentari
menikmati hijaunya rumput
berpijak di hangatnya kerikil
dan berlari sambil menggandeng sebayamu
Biarpun play station sudah menjadi
lebih tenar daripada petak umpet

Seandainya dapat menggantungkan harapan,
Ibu mau
engkau tetap suka menggoreskan pena dan membaca
mencoreti dinding dengan crayon
mengotori tanganmu dengan tinta
dan berkarya dengan gunting dan kertas warna
Biarpun internet sudah jadi lagu wajib
dan lebih dikenal daripada pensil dan buku cerita

Kalau boleh mengucap do’a,
bersimpuh Ibu mohon padaNya
agar engkau tumbuh
berangkat besar dalam keteguhan iman

Memahami pesatnya teknologi,
namun tetap mengenal alam sekitarmu

Mensyukuri kemudahan yang dibawa abad baru,
namun tetap menghargai ciptaanNya

Semoga cinta yang tak berbatas ini,
cukup kuat untuk mengantarmu
masuk ke dalam zaman yang penuh kecanggihan
tanpa meninggalkan hakikimu sebagai manusia

Amiin…

*******************************
Hanni Armansyah
Jakarta, 29 Desember 1999