Belajar dari Prajurit Kecil-ku
"Ibu.. aku menang…!! Kata Bu Guru, aku juara.. teman-teman semua juga lho!" Begitu pekik riang bungsu-ku kemarin, sepulang sekolah.
Memang kemarin adalah hari terakhir rangkaian acara perayaan tujuh belas agustusan di sekolah; ditutup dengan aneka lomba ketangkasan –dan aku tahu persis, soal ketangkasan, kedua anakku agak mustahil lah jadi juara, hehe… itu ‘nurun banget dari ibunya– Jadi aku yakin, bahwa kalimat yang meluncur dari mulut anakku adalah kalimat ‘penghibur’ dari Gurunya buat murid-murid yang tidak memenangkan lomba, apalagi mengingat bahwa Ai sempat sesenggukan ketika kalah lomba peragaan busana pejuang, sehari sebelumnya
Tapi untuk menanggapi antusiasmenya, aku balas juga pekikan Aiko dengan pertanyaan, "O ya.. semua memang..?? Wah, ikut lomba apa aja tadi de?"
"Bukan lomba bu.. aku dan teman-teman menang perang…!" begitu celotehnya seru.. Dahiku mengerut..
"Oohh.. tadi di kelas main perang-perangan ya de?" Pikirku, pasti tadi di kelas ada kegiatan role play ‘Perang Kemerdekaan’.
"Bukan ibuuuuuuuuuu… kata Bu Guru, hari ini aku menang perang betulan, seperti dulu pajuan(pejuang -red) melawan panjaja (penjajah -red) bu.. Tapi aku sama teman-teman perangnya melawan rasa malas, rasa malu, rasa takut, rasa mau menang sendiri dan rasa nggak sabaran.. gitu buu.." Mulut kecil itu nyerocos penuh semangat, tak peduli pengucapannya belum sempurna
Aih, mak deg.. hampir copot jantung ibunya mendengar jawabannya itu! Jadi guru, aku tahu memang harus kreatif banget ya (itulah makanya aku ngga bisa jadi guru deh kayanya, heheee..) tapi nggak sangka lho, bahwa bisa se’dalam’ itu kaitan antara perayaan hari kemerdekaan dengan konsep nilai yang tertanam dalam diri anak-anak.
Dasar aku lagi kumat ’serius’nya kali yaa.. celotehan siang itu betul-betul jadi bahan renungan semalaman. Dulunya, kupikir memang acara-acara tujuhbelasan itu penting buat anak-anak karena lewat kegiatan seperti itu mereka dikenalkan pada konsep nasionalisme -dalam pengertian yang paliiiing sederhana sekalipun, sekedar mengibarkan bendera kecil atau memakai pakaian merah-putih- lalu lewat permainan yang seru dan menyenangkan, supaya konsep hari merdeka itu bisa mereka identikkan dengan kegembiraan dan kebersamaan… kumpul dengan tetangga, teman-teman sekolah, ada hadiah.. pokoknya suasanya menyenangkan lah! Ketika mulai besar, momentum tujuh belasan adalah waktu untuk mengenalkan pada anak tentang makna sejarah perjuangan dan jasa mereka yang merebut kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajah.
Namun sungguh, tak pernah terbersit di benakku.. bahwa lewat perayaan tujuh belas agustusan, anak-anak bisa diajak merasakan ‘berperang’.. apalagi anak-anak sekecil Aiko, yang belum juga sebulan jadi anak TK!
Akhirnya ingatanku terbang ke tiga hari terakhir saat di sekolahku berlangsung rangkaian perayaan tujuh belasan. Iya juga ya.. buat ikut berlomba, anak-anak harus bisa mengalahkan rasa malu tampil ke depan, rasa takut bahwa bakiaknya akan copot atau lebih lagi.. rasa takut bahwa akan kalah. Mereka juga mesti sabar menunggu giliran, lalu ketika sudah dapat giliran.. sabar lagi menunggu teman-temannya yang belum dapat giliran.
Kalau begitu, sebetulnya.. kita yang statusnya ‘dewasa’ dan orangtua dari anak-anak kecil ini harusnya bisa juga ya belajar berperang melawan berbagai rasa itu.. Karena kalau kita mau jujur melihat jauh ke dalam lubuk hati yang paling dalam, biasanya kalau anak-anak dapat undangan perayaan tujuh belasan, kita yang suka merasa "ah, malas deh de.. kan di sekolah cuma lomba-lomba aja, ngga belajar kok.. jadi di rumah aja deh daripada macet-macetan ke sekolah" atau sebaliknya, sebegitu semangatnya mempersiapkan anak ikut lomba dan memperjuangkan dengan segala cara supaya si anak dapat giliran duluan, jangan sampai menunggu terlalu lama, dan….. jangan sampai ngga menang..!!
Kalau dipikir dan dikenang, berapa kali ya, sebagai orangtua ketika mendampingi anak berlomba mengucap,
"eeehh sebetulnya tadi anak saya seperempat langkah lebih dulu lho nyentuh garis finish!"
"curang tu dia.. terang aja menang.. soalnya badannya lebih besar dari anak saya!"
atau.. ada lagi yang merasa ngga ada perlunya menunggu sampai akhir acara "udah yuk de, yang penting kamu udah lomba kan.. masih banyak banget tu temennya yang belum, lama bener kalo ditungguin sampai acaranya selesai.. pulang aja yuk duluan.. toh kamu ngga menang ini.."
Padahal, lewat lomba-lomba sederhana dan skala keciiiil seperti ini, anak belajar tentang sportivitas dan etika, dua hal yang penting serta genting dibutuhkan saat mereka nantinya harus menghadapi lomba-lomba ‘besar’ dalam kehidupan yang sesungguhnya.. yaitu kehidupan yang kemungkinan besar harus mereka lalui tanpa bisa didampingi oleh kita, orangtuanya.
Ya..ya..ya.. ternyata betul juga ya, baik itu para pejuang jaman dulu yang harus merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, anak-anak jaman sekarang maupun kitaa… orangtua yang harus mengantar anak-anak sampai gerbang kehidupannya nanti, harus melalui medan perang yang sama beratnya.
MERDEKA !!!
***************************** hds/17 Agustus 2006
February 14th, 2007 at 10:35 pm
Han, gurunya Aiko top bangetttt….
Jadi ikutan belajar, jd orang tua juga harus creative kan… dan smoga Nasta bisa mendapatkan guru-guru yang kreatif juga. Amien.
Apa kabar Han?
March 29th, 2007 at 7:26 pm
Seringkali kita belajar dari membaca pengalaman teman, keluarga, orang lain di luar diri kita sendiri. Salah satu nya dari baca blognya Hanni…:) Tulisan tentang “Belajar dari Prajurit Kecilku” “Kenapa toilet training penting”, membuka mata kita, terutama buat gw yang baru belajar jadi orang tua :)…sering sering nulis ya Han…