Archive for January, 2007

Mall is No Playground

Monday, January 1st, 2007

Published Sunday, March 21, 2004 By Marvin W. Berkowitz

I read a "letters from parents" column recently that concerned the age at which kids can safely and appropriately be dropped off at the shopping mall.

There are many subtexts to this question:

How old are kids before they are responsible without supervision? How safe are kids from predators in public places like a shopping mall? To what are kids exposed when they are wandering a shopping mall? Why are parents "malling" their children, and what messages are they sending to their children by doing so?

All of these are valid and complex questions, well worth considering and answering. But I want to focus on the broader issue of how we value and organize our children’s free time. And the impact on their character.

As I was growing up, we spent our free time mainly in each others’ homes or in the neighborhood (especially in the schoolyard on the baseball fields and basketball courts). Homes were safe, and the neighborhood was safe (of course neither of those are absolutes; even in the relatively idyllic neighborhood where I grew up, husbands sometimes beat their wives and one psychotic child murdered another child, but those were rare events). We were generally supervised in each other’s homes. And the schoolyard was full of kids we already knew from school and the neighborhood.

The activities we engaged in were generally healthy. Even TV, while admittedly not a major growth experience, wasn’t laden with the antisocial messages with which kids are constantly awash today. We played board games and ping pong, talked and watched TV. In the schoolyard, we played ball games, rode our bikes and talked some more. We got fresh air and exercise, and developed (mostly) mutually supportive relationships.

One of the very early covered shopping malls was right in our neighborhood. Perhaps we were dense, but it never seemed to "call" to us as a prime place to hang out and spend our time. It should be no surprise to anyone, but children need peer interaction, exercise, exposure to positive values and nurturant adult supervision. (Malls supply only the first, and that is the easy one.) Malls supply a place to dump children (message: you are a bother) and a place for idle hands to do the devil’s work (message: any activity is better than no activity) and are a magnet for predators (message: the world is a treacherous place) and a showplace for concentrated materialism and consumerism (message: "having" is a fundamental goal, regardless of whether you need it or not).

So, I think we need to be architects of our children’s leisure time as best we can. Especially when they are younger, because they become more responsible, competent and autonomous as they get older. We need to steer them to productive, healthy ways of spending their time. And we need to look deeply at the messages we send to our children through our choices or our failures to make choices.

The messages we send, intentionally or not, shape the character of our children.

————————————————-

Marvin W. Berkowitz, Ph.D. is the Sanford N. McDonnell professor of character education at the University of Missouri-St. Louis. His e-mail address is berkowitz@umsl.edu.

Belajar dari Prajurit Kecil-ku

Monday, January 1st, 2007

"Ibu.. aku menang…!! Kata Bu Guru, aku juara.. teman-teman semua juga lho!" Begitu pekik riang bungsu-ku kemarin, sepulang sekolah.

Memang kemarin adalah hari terakhir rangkaian acara perayaan tujuh belas agustusan di sekolah; ditutup dengan aneka lomba ketangkasan –dan aku tahu persis, soal ketangkasan, kedua anakku agak mustahil lah jadi juara, hehe… itu ‘nurun banget dari ibunya– Jadi aku yakin, bahwa kalimat yang meluncur dari mulut anakku adalah kalimat ‘penghibur’ dari Gurunya buat murid-murid yang tidak memenangkan lomba, apalagi mengingat bahwa Ai sempat sesenggukan ketika kalah lomba peragaan busana pejuang, sehari sebelumnya

Tapi untuk menanggapi antusiasmenya, aku balas juga pekikan Aiko dengan pertanyaan, "O ya.. semua memang..?? Wah, ikut lomba apa aja tadi de?"

"Bukan lomba bu.. aku dan teman-teman menang perang…!" begitu celotehnya seru.. Dahiku mengerut..

"Oohh.. tadi di kelas main perang-perangan ya de?"  Pikirku, pasti tadi di kelas ada kegiatan role play ‘Perang Kemerdekaan’.

"Bukan ibuuuuuuuuuu… kata Bu Guru, hari ini aku menang perang betulan, seperti dulu pajuan(pejuang -red) melawan panjaja (penjajah -red) bu.. Tapi aku sama teman-teman perangnya melawan rasa malas, rasa malu, rasa takut, rasa mau menang sendiri dan rasa nggak sabaran.. gitu buu.." Mulut kecil itu nyerocos penuh semangat, tak peduli pengucapannya belum sempurna

Aih, mak deg.. hampir copot jantung ibunya mendengar jawabannya itu! Jadi guru, aku tahu memang harus kreatif banget ya (itulah makanya aku ngga bisa jadi guru deh kayanya, heheee..) tapi nggak sangka lho, bahwa bisa se’dalam’ itu kaitan antara perayaan hari kemerdekaan dengan konsep nilai yang tertanam dalam diri anak-anak.

Dasar aku lagi kumat ’serius’nya kali yaa.. celotehan siang itu betul-betul jadi bahan renungan semalaman. Dulunya, kupikir memang acara-acara tujuhbelasan itu penting buat anak-anak karena lewat kegiatan seperti itu mereka dikenalkan pada konsep nasionalisme -dalam pengertian yang paliiiing sederhana sekalipun, sekedar mengibarkan bendera kecil atau memakai pakaian merah-putih- lalu lewat permainan yang seru dan menyenangkan, supaya konsep hari merdeka itu bisa mereka identikkan dengan kegembiraan dan kebersamaan… kumpul dengan tetangga, teman-teman sekolah, ada hadiah.. pokoknya suasanya menyenangkan lah! Ketika mulai besar, momentum tujuh belasan adalah waktu untuk mengenalkan pada anak tentang makna sejarah perjuangan dan jasa mereka yang merebut kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajah.

Namun sungguh, tak pernah terbersit di benakku.. bahwa lewat perayaan tujuh belas agustusan, anak-anak bisa diajak merasakan ‘berperang’.. apalagi anak-anak sekecil Aiko, yang belum juga sebulan jadi anak TK!

Akhirnya ingatanku terbang ke tiga hari terakhir saat di sekolahku berlangsung rangkaian perayaan tujuh belasan. Iya juga ya.. buat ikut berlomba, anak-anak harus bisa mengalahkan rasa malu tampil ke depan, rasa takut bahwa bakiaknya akan copot atau lebih lagi.. rasa takut bahwa akan kalah. Mereka juga mesti sabar menunggu giliran, lalu ketika sudah dapat giliran.. sabar lagi menunggu teman-temannya yang belum dapat giliran.

Kalau begitu, sebetulnya.. kita yang statusnya ‘dewasa’ dan orangtua dari anak-anak kecil ini harusnya bisa juga ya belajar berperang melawan berbagai rasa itu.. Karena kalau kita mau jujur melihat jauh ke dalam lubuk hati yang paling dalam, biasanya kalau anak-anak dapat undangan perayaan tujuh belasan, kita yang suka merasa "ah, malas deh de.. kan di sekolah cuma lomba-lomba aja, ngga belajar kok.. jadi di rumah aja deh daripada macet-macetan ke sekolah" atau sebaliknya, sebegitu semangatnya mempersiapkan anak ikut lomba dan memperjuangkan dengan segala cara supaya si anak dapat giliran duluan, jangan sampai menunggu terlalu lama, dan….. jangan sampai ngga menang..!!

Kalau dipikir dan dikenang, berapa kali ya, sebagai orangtua ketika mendampingi anak berlomba mengucap,

"eeehh sebetulnya tadi anak saya seperempat langkah lebih dulu lho nyentuh garis finish!"

"curang tu dia.. terang aja menang.. soalnya badannya lebih besar dari anak saya!"

atau.. ada lagi yang merasa ngga ada perlunya menunggu sampai akhir acara "udah yuk de, yang penting kamu udah lomba kan.. masih banyak banget tu temennya yang belum, lama bener kalo ditungguin sampai acaranya selesai.. pulang aja yuk duluan.. toh kamu ngga menang ini.."

Padahal, lewat lomba-lomba sederhana dan skala keciiiil seperti ini, anak belajar tentang sportivitas dan etika, dua hal yang penting serta genting dibutuhkan saat mereka nantinya harus menghadapi lomba-lomba ‘besar’ dalam kehidupan yang sesungguhnya.. yaitu kehidupan yang kemungkinan besar harus mereka lalui tanpa bisa didampingi oleh kita, orangtuanya.

Ya..ya..ya.. ternyata betul juga ya, baik itu para pejuang jaman dulu yang harus merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, anak-anak jaman sekarang maupun kitaa… orangtua yang harus mengantar anak-anak sampai gerbang kehidupannya nanti, harus melalui medan perang yang sama beratnya.

MERDEKA !!!

***************************** hds/17 Agustus 2006

(kata Amanda) Tentang “Hubungan Suami Isteri”

Monday, January 1st, 2007

Ini percakapan sore-sore.. Saat habis wudhu, sambil nunggu Amanda yang lagi siapin tempat sholat, aku terima telpon dari Adam.. Selesai telpon, Amanda menghampiriku dengan muka cemas…

Amanda : "Ibu, kayanya musti wudhu lagi deh…"

Ibu : "Lho kenapa Kak?"

A : "Ibu batal kan wudhunya?" mukanya masih cemas gitu..

I : "Engga kok.. wudhu Ibu belum batal" aku pun kekeuh..

A : "Ibu memangnya ngga diajarin ya.. kalau sudah wudhu tu ngga boleh telpon atau sms-an lagi lho sama Bapak !!" kali ini mukanya lebih keliatan ngga sabar… seperti biasanya kalau dia ngomong dan kami yang dewasa ngga ngerti..

I : "he..?? aduh maaf Kak, ibu ngga ngerti.. maksud Kakak gimana?"

A : "Hubungan suami isteri kan membatalkan wudhu bu !"

I : "………….." (pingsaaaan….)