Archive for August, 2006

The Best Gift for a Child

Friday, August 11th, 2006

Feb 3, ‘06 11:08 AM

Ini sedikit oleh-oleh dari sebuah seminar .. smoga berkenan ;-) walaupun tulisannya ditujukan untuk Bapak & Anak lelakinya, tp cukup ‘enlighting’ juga buat dianalogikan oleh kita yang ibu-ibu… dengan anak lelaki ataupun anak perempuan kita… hehe.. happy reading & have a nice weekend ! ======================================

The Best Gift for a Child

A father ask..

"What shall i give to my boy?" a glamorous game, a tinseled toy, a barlow knife, a puzzle pack a train that runs on a curving track a picture book, or maybe a real live pet ??

No, there’s plenty of time for such things yet

Give him a day for his very own.. just one boy and his Dad alone a walk in the woods, a romp in the park a fishing trip from dawn to dark

Give him the gift that only you can give.. The companionship of his Dad..

Games are outgrown, and toys decay But he’ll never forget if you ‘give him a day’

-anon-

Pernikahan

Friday, August 11th, 2006

Jul 10, ‘06 2:11 PM  - http://armansyah.multiply.com

Menjelang bulan puasa, undangan pernikahan selalu saja menumpuk. Alhamdulillaah.. begitu banyak kemudahan dari Allah swt melapangkan jalan ummatNya buat mengikuti sunnah Rasul.

Sayangnya di beberapa kali persiapan pernikahan keluarga, aku selalu menemui kejanggalan dan merasakan kepedihan yang bisa membuat migrain kumat dan susah tidur.. hehee karena memang, kalau ada pikiran.. bercangkir kopi akan jadi sahabat karibku.

Gonjang-ganjing persiapan pernikahan selalu saja membuat hatiku meringis pedih. Kenapa ya, soal-soal sepele seperti pilihan tempat, pilihan waktu, pilihan menu catering, seragam panitia, adat mana yang mau dipakai, pembagian undangan antara pihak pengantin pria dan wanita dan sejutaaaaaaa hal remeh lainnya bisa membuat suasana begitu meng’gerah’kan. Tegang, saling ghibah dan hati bisa jadi begitu sarat dengan su’udzon.. untuk mempersiapkan acara yang harusnyaaaa.. begitu sakral.. indah.. suci… MasyaAllah!

Perdebatan soal hal-hal begitu bisa muncul antara orangtua pengantin dengan si calon pengantin, antara keluarga besar calon besan, antara panitia, bahkan… kadang ‘nyetrum’ juga ketegangan suasananya kepada kedua calon pengantin. Iya-lah, pastinya kan masing-masing akan membela pendapat keluarganya, merajuk supaya calonnya bisa membuat keluarganya mengerti dan menerima pendapat keluarga satunya.

Alamaaakk.. rumit betul memang ya, menyatukan dua keluarga besar, sampai semua pihak bisa lupa pada pertanyaan yang mendasar "Sebetulnya yang mau nikah siapa sih yaaaaaa…??"

Persiapan pernikahanku sendiri dulu jauh dari sempurna. Tidak luput juga dari rusuh, rungsing dan ketegangan (apalagi memang kejadiannya hampir berbarengan dengan kerusuhan politik beneran, yang membuat semua rencana matang mendadak jadi mentah kembali).

Tapi masih ingat betul aku, suatu malam.. Mama memanggil dan mengajakku bicara serius, panjang-lebar-luas dan dalammm sekali. Intinya, Mama berpesan bahwa sebagai janda, beliau tak kan mampu (lahir-batin) untuk menyelenggarakan pesta besar dan meriah buat pernikahanku. Tapi dia ingin menghadiahkan sesuatu yang istimewa, yang akan aku kenang sepanjang hayat, yakni ijab qabul yang khidmat. "Maksudnya apa sih?" Aku masih ingat, itu pertanyaanku pada beliau saat itu.

Dan Mama menjawab "Acara perkawinan hanyalah sekedar acara, akhirnya akan berlalu begitu saja. Tamu-tamu akan pulang. Undangan dan suvenirmu kemungkinan besar akan berakhir di tong sampah. Makanan akan habis, berakhir jadi sampah juga. Pakaian yang panitia pakai, akhirnya akan disimpan di lemari, kecil kemungkinannya dipakai lagi, syukur kalau bisa disedekahkan, tapi jarang juga kan kita kasih sedekah berupa kebaya kerlap kerlip? Yang tersisa buat Mama dan semua orang selepas acara mungkin hanya kaki yang pegal dan rambut kaku penuh hairspray. Tapi tidak begitu dengan kamu dan Adam, karena hidupmu, setelah ijab qabul akan berubah total, tidak akan pernah sama lagi. You will not be my little girl anymore, you’ll be a wife. Akan banyak tugas dan tanggung jawabmu, dan itu tidak akan ringan. Akan banyak ups & downs yang kamu hadapi dalam kehidupan rumahtanggamu, kemungkinan besar lebih banyak downs-nya. Akan ada masa kamu ngga kepingin senyum. Akan ada masa kamu ngga mengerti tentang suamimu atau dirimu sendiri. Akan ada masa kamu mempertanyakan, apa langkahmu benar dan bahkan mungkin sekali waktu akan ada godaan yang membuatmu ingin berandai-andai bahwa kamu ada dalam kehidupan yang berbeda. Semua itu harus kamu hadapi dan patahkan sendiri, ngga bisa lagi kamu berlindung di balik ‘rok’ Mama (entah apa arti sebenar-benarnya, tapi istilah -sembunyi di balik rok- ini lazim sekali dipakai dalam keluargaku). Pada saat kamu dihadang masalah, mudah-mudahan ijab qabul-mu akan jadi kenangan yang membekas, yang mengingatkan kamu dan suamimu bahwa komitmen kalian adalah kepada Tuhan. Dan mudah-mudahan ingatan yang seperti itu akan menguatkan kalian berdua buat terus memberi upaya yang terbaik, ngga peduli serumit apapun masalah yang kalian hadapi. Cuma itu do’a Mama setiap saat, supaya moment sakralmu bisa selalu kamu genggam.. tidak ternoda oleh segala kesibukan dan kegelisahan persiapan acaranya".

Duh, sekarang.. setelah makin sering aku mengalami hingar-bingar persiapan-persiapan pesta pernikahan sanak keluargaku.. makin sering juga ingatanku kembali pada ‘pidato’ Mama malam itu. Alhamdulillaahh.. betapa murah hatinya Allah pada aku, mengaruniakan Mama yang begitu bijak sehingga saat itu, detik itu.. kami bisa bersepakat buat meletakkan kesakralan di atas segala persiapan lainnya.

Kesepakatan itu artinya, menahan diri untuk tidak terpancing berdebat, berbeda pendapat, dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan santai dan penuh kenikmatan. Sulitnya jangan ditanya, menyatukan isi dua kepala saja sudah berat, apalagi ada banyak kepala yang terlibat dalam persiapan hajatan itu.. Belum lagi keterbatasan yang juga banyak dan kendala emosi dari diriku sendiri. Masa-masa itu adalah masa di mana hatiku separo marah pada dunia bahwa Papa tidak mendampingi aku, sehingga rasanya semua orang merasa punya andil buat mengatur acara-ku. Aku membayangkan, kalau saja Papa ada, pasti orang-orang akan segan, dan membiarkan Papa memutuskan (dan Papa, pasti akan berdiskusi dulu denganku sebelum memutuskan!) Bersyukurlah kalian yang menikah didampingi Ayah, karena ketiadaan sosoknya betul-betul membuat perbedaan. (Ini yang selalu membuat airmataku mengucur deras tiap kali ‘menonton’ adegan ijab qabul )

Kenyataannya, yang sekarang tersisa dari acara pernikahanku memang ‘hanya’ beberapa album foto yang sudah mulai kuning. Senyum-senyum simpul aku dan Adam yang mengagumi betapa langsing-nya kami 8 tahun silam. Tidak ingat lagi, bagaimana rasanya makanan hari itu, dan segala detail memang seperti menguap.

Tapi tidak bagian ijab qabul. Aku masih bisa merasakan tangis yang tertahan di tenggorokan, waktu aku harus menggenggam tangan Oom-ku dan menatap mata Ibuku, memohon izin buat dinikahkan. Aku masih merasakan genggaman tangan Oomku yang sejenak, mengingatkan aku pada genggam tangan Papa waktu menggandengku di masa kecil dulu. Dan aku masih merasakan, rasa yang tak bisa terkatakan, ketika mendengar Adam membacakan Al Baqarah ayat 128 sebagai mas kawin dan berijab qabul dengan Oom-ku. Aku masih ingat, do’a dan janjiku dalam hati, at that very moment, "Ya Allah, jadikan hati kami kokoh dalam iman, menjaga satu sama lain dalam keadaan apapun.."

Ternyata Mama memang benar.. tak ada yang lebih penting dari kesakralan ijab qabul. Itulah, saat malaikat pun berkumpul menjadi saksi dan perjanjian suci kita. Dan janji adalah sesuatu yang harus ditepati. Harus. Paling tidak, upaya untuk menepatinya harus betul-betul maksimal (dan sungguh, Allah Maha Tahu akan niat yang ada dalam hati tiap hambaNya, kan?).

Ternyata aku sungguh beruntung, karena antara aku dan Adam, ketika mempersiapkan pernikahan itu tidak ada beban untuk menjadikannya sebuah acara yang sempurna, sehingga kami justru bisa sangat santai menikmati diskusi tentang rencana-rencana buat masa depan, membicarakan prinsip dan pandangan yang tentang kehidupan berkeluarga, karir, anak, dll.. yang ternyata sangat banyak perbedaannya, tapi juga sangat melengkapi satu sama lain.

Mudah-mudahan, adik-adikku dan Adam.. teman-teman.. keponakan-keponakan yang masih sedang menjelang hari bahagianya dan bahkan someday, insyaAllah anak-anak kami berdua juga bisa mereguk kenikmatan pernikahan, lebih dari sekedar pelaksanaan perhelatannya.

Mudah-mudahan, tak usah kalian dipusingkan dengan keluarga ini maunya begitu.. keluarga itu maunya begini.. dan mudah-mudahan kesakralan perjanjian kalian di hadapan Sang Khalik akan menjadi hal yang jauuuuuuh lebih utama dan berarti dibandingkan meributkan, siapa yang menyetor lebih banyak modal sehingga lebih berhak ‘mengatur’pesta pernikahan kalian. Ah, sungguh suatu ‘kemiskinan hati’ dan kepicikan yang luar biasa apabila hal-hal duniawi seperti itu menjadi titik pangkal kalian dalam mengawali kehidupan baru sebagai seorang suami dan istri!!

Semakin dekat kalian dengan saat ijab qabul, semakinlah perkaya hati kalian mencari modal hakiki yang betul-betul akan kalian butuhkan dalam kehdiupan perkawinan kalian, yakni ketenangan hati, mencari ridha Allah swt dan menambah khasanah ilmu supaya saat menghadapi ‘Ujian Nasional’ yang berulang-ulang dalam bahtera perkawinan nantinya, tidak ada istilah tidak lulus untuk mencapai rumahtangga sakinah, mawaddah nan penuh rahmah.. (karena rasa2nya, sulit mencari ujian ulangan atau paket C untuk ketiga aspek itu ;-)

Mudah-mudahan, kala aku menjadi Tante, Bude, atau bahkan si Ibu Pemangku Hajat kelak, aku mampu membekali si calon mempelai dengan modal yang tidak semata ‘habis’ ketika pesta usai.. tetapi modal yang bisa mereka pakai, ketika kelak Allah swt meminta pertanggungjawaban atas janji mereka berdua di hadapanNya.

******************hds/Juli 2006

Theo Toemion dan Kami… (bagian 2)

Friday, August 11th, 2006

May 10, ‘05 11:16 AM

Pelajaran kedua… Apa yang ingin kita ajarkan pada anak kita? Pertanyaan ini adalah refleksi kami berdua, setiap kali situasi ‘menggoda’ kami untuk melanggar petuah-petuah kami sendiri pada kedua buah hati kami. Ketika mereka membombardir dengan sejuta pertanyaan dengan frekwensi suara yang sangat tinggi, rasanya mudah sekali kami meng’hardik’ mereka untuk SABAR. Lalu ketika mereka terburu-buru minta sesuatu dengan intonasi suara ‘menyuruh’, kami tak akan pernah lupa mengingatkan mereka untuk BICARA SOPAN.. pakai kata "tolong…" dan jangan lupa ucapkan "terimakasih…" dan masih ada sejuta lagi petuah kami supaya mereka tumbuh menjadi manusia yang santun dan berbudi pekerti.

Tapi bagaimana ketika di jalan, ada orang menyerobot antrian kami di tengah kemacetan lalu lintas? Bagaimana ketika kami belanja, dilayani oleh spg yang sambil asyik ngobrol dengan teman-teman kerjanya sehingga kami seperti tidak dipedulikan? Adakah kami bisa bersabar dan bicara sopan? Pribadi yang santun dan berbudi pekerti-kah kami dalam keseharian kami? Ketika situasi tidak menyenangkan, tidak sesuai harapan dan memancing emosi?? Padahal kami tahu betul, bahwa sopan santun, budi pekerti, etika, moral… bukan hal-hal yang bisa dipelajari di sekolah. Bahkan sekolah yang menggunakan metode tercanggih dan kurikulum plus plus plus sekalipun tak akan mampu mencetak murid-murid yang santun dan berbudi pekerti, apabila kerja pencetakan itu dibebankan hanya pada sekolah itu saja.

Di sisi lain, apabila ‘nilai’ anak minus dalam hal sopan santun, budi pekerti, etika dan moral.. kami pun sadar bahwa tak akan pernah ada tempat les atau bentuk remedial apapun yang bisa mendongkrak nilai itu. Sesungguhnya, porsi terbesar dalam pembentukan karakter anak, adanya pada diri kita sebagai orangtua mereka. Dari kita lah anak-anak belajar tentang sopan santun, budi pekerti, etika dan moral (termasuk pengendalian emosi )…bukan pula melalui petuah dan rentetan ceramah, … tetapi ‘cukup’ dengan memberikan contoh dalam keseharian kita.. melalui hal-hal paling remeh sekalipun… terutama hal-hal yang kita lakukan saat kita mengira bahwa anak-anak tak melihat kita… seperti tulisan Mary Korzan di bawah ini…

When You Thought I Wasn’t Looking…

When you thought I wasn’t looking, I saw you hang my first painting on the refrigerator, and I immediately wanted to paint another one.

When you thought I wasn’t looking, I saw you feed a stray cat, and I learned that it was good to be kind to animals.

When you thought I wasn’t looking, I saw you make my favorite cake for me, and I learned that the little things can be the special things in life.

When you thought I wasn’t looking, I heard you say a prayer, and I knew there is a God I could always talk to, and I learned to trust in God.

When you thought I wasn’t looking, I saw you make a meal and take it to a friend who was sick, and I learned that we all have to help take care of each other.

When you thought I wasn’t looking, I saw you give of your time and money to help people who had nothing, and I learned that those who have something should give to those who don’t.

When you thought I wasn’t looking, I saw you take care of our house and everyone in it, and I learned we have to take care of each other and family.

When you thought I wasn’t looking, I saw how you handled your responsibilities even when you didn’t feel good, and I learned that I would have to be responsible when I grow up.

When you thought I wasn’t looking, I saw tears come from your eyes, and I learned that sometimes things hurt, but it’s all right to cry.

When you thought I wasn’t looking, I saw that you cared, and I wanted to be everything that I could be.

When you thought I wasn’t looking, I learned most of life’s lessons that I need to know to be a good and productive person when I grow up.

When you thought I wasn’t looking, I looked at you and wanted to say, "Thanks, for all the things I saw when you thought I wasn’t looking." (c) 1980 Mary Rita Schilke Korzan

This poem was written as a tribute to my mom, Blanche Schilke for she always remind me with this question : "Each of us (parent, grandparent, aunt, uncle, teacher, or friend) influence the life of a child. How will you touch the life of someone today?"

********************** hds/may 2005

Theo Tomion & Kami… (bag. 1)

Friday, August 11th, 2006

May 4, ‘05 10:45 PM - http://armansyah.multiply.com

Kami berdua ngga kenal lho sama Theo Tomion! Sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, paling banter kami ‘kenal’ wajahnya dari media massa. Tapi hari-hari belakangan ini, kami berkhayal andai kami kenal dia.. kami ingiiiin sekali mengucapkan terima kasih karena dia telah memberi pelajaran berharga buat kami berdua, lewat huru-hara yang terjadi di JIS.

Pelajaran pertama.. Biarkan anak tumbuh dalam dunianya. By this, berarti juga membiarkan mereka merasa kecewa, sakit, jatuh, gagal. Oh, tentu.. ini berat sekali. Orangtua mana sih yang rela melihat anaknya ‘menderita’? Tetapi kalau saja kita mengkilas balik secuplik kehidupan kita sendiri, tidakkah segala kesulitan dan hal yang rasanya berat untuk dilalui justru memberi kita pelajaran paling bermakna? Bukankah segala air mata dan beban berat yang pernah kita rasakan justru membuat kita lebih kuat menyongsong masa depan? Lalu kenapa, kita ingin segalanya sempurna untuk anak-anak kita? Mereka jangan sampai kepanasan, jangan sampai terselubung debu, jangan sampai terjebak macet, jangan sampai kehujanan, jangan sampai kalah bertanding, jangan sampai tidak terpilih ikut pementasan, jangan sampai tidak masuk dalam tim olahraga di sekolah, jangan sampai terdorong oleh temannya, jangan sampai diledek oleh temannya, jangan sampai ia mendapat nilai jelek, jangan sampai ia ditegur orang, jangan sampai hatinya sakit.. oh, the list can just go on and on….

Sebagai orangtua, kamipun pernah melalui tahapan pemikiran ’sejuta jangan sampai…’ itu untuk anak-anak kami. Khususnya pada saat mendampingi si sulung tumbuh pada awalnya. Tetapi (Alhamdulillah..) semakin lama kami semakin disadarkan, bahwa tugas kami sebagai orangtua bukan menghindarkan anak dari rasa sakit.. juga bukan untuk memberi obat penghilang rasa sakit itu.. tetapi simply.. mendampingi mereka dengan cinta, sehingga segala yang terasa sulit, berat, tidak enak dan menyakitkan bisa mereka lewati dengan kepala tegak. Kami masih ingat, betapa keras jemari kami saling menggenggam dan penuh mata kami oleh genangan air mata, ketika melihat bagaimana putri sulung kami di usianya yang 3 tahun dikucilkan oleh teman–temannya, karena saat itu ia hanya bisa ber’bahasa planet’ dan tidak dimengerti oleh teman-temannya. Ingin rasanya menggandeng tangannya dan mengantarnya ke tengah teman-temannya yang sedang berkumpul, lalu mengatakan pada teman-temannya itu "ini Amanda.. diajak main sama-sama yaa.." Namun hati kecil kami tahu, ini adalah pelajaran penting, bagian dari ‘growing pains’ yang harus ia lewati, karena real life is exactly like that.. tidak akan selalu mulus, tidak akan selalu adil, tidak akan selalu menempatkan kita di posisi yang enak dan nyaman.

Sebagai orang beragama, lebih jauh lagi kita percaya bahwa anak-anak ‘hanya’lah titipan.. pinjaman sementara dari Sang Khalik. Entah sampai kapan kita diberi kesempatan untuk mendampingi mereka. Bagi kami berdua, bayangan bahwa tidak selamanya kami bisa berada di sisi anak-anak lebih menguatkan lagi keyakinan bahwa tugas kami adalah mempersiapkan mereka menjadi manusia yang tegar dan tangguh. Tentunya bukan berarti bahwa kami harus meng’gojlok’ mereka model akademi militer atau perploncoan a la jaman mahasiswa dulu.. tetapi membiarkan hidup menempa mereka apa adanya.. tidak menempatkan jiwa mereka di dalam bola kristal yang tak terjamah oleh kepahitan.

Kami jadi teringat, sebuah puisi yang dikirimkah oleh seorang kawan lama, ketika putri sulung kami (sekarang usianya sudah 6 thn!) baru saja lahir. Puisi ini sering kami baca ulang, karena begitu bermakna buat kami untuk saling mengingatkan.. mudah-mudahan bermakna pula bagi teman-teman yang membaca.

DO’A SEORANG PRAJURIT (Jend. Douglas Mac Arthur)

Tuhanku, Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah, dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut.

Manusia yang selalu memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati serta jujur dalam kemenangan.

Bentuklah putraku menjadi manusia kuat dan mengerti bahwa mengetahui dan kenal akan dirinya sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.

Tuhanku, Jangan bimbing putraku di atas jalan yang mudah dan nyaman biarlah Kau bimbing dia di bawah tempaan dan desakan kesulitan tantangan hidup.

Bimbinglah putraku supaya tegak berdiri di tengah badai, berbelas kasih kepada mereka yang jatuh.

Bentuklah putraku menjadi manusia berhati bening dengan cita setinggi langit. Seorang putra yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum ia berhasrat memimpin orang lain. Seorang putra yang menjangkau ke hari depan tapi tidak melupakan masa lampau.

Dan setelah segala kebaikan menjadi miliknya, semoga putraku dilengkapi hati yang ringan dan kemampuan untuk bersenda gurau sehingga ia mampu menari serta selalu akan bersungguh hati, tapi jangan sekali-kali menganggap dirinya terlalu berkesungguhan.

Berikanlah padanya kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan hakiki, pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan bagi kelembutan dari kekuatan sebenarnya.

Dan saat ia melewati semua itu aku, orangtuanya, ‘kan berani berbisik, "Hidup kami tidaklah sia-sia".

disadur dari: A SOLDIER’S PRAYER (Jend. Douglas Mac Arthur)

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be; a son who will know Thee….

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clean, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will learn to laugh, yet never forget how to weep; one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously.

Give him humility, so that he may always remember the simplicity of greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength. Then I, his father, will dare to whisper, "I have not lived in vain."

************************ hds/mei 2005