Jul 10, ‘06 2:11 PM - http://armansyah.multiply.com
Menjelang bulan puasa, undangan pernikahan selalu saja menumpuk. Alhamdulillaah.. begitu banyak kemudahan dari Allah swt melapangkan jalan ummatNya buat mengikuti sunnah Rasul.
Sayangnya di beberapa kali persiapan pernikahan keluarga, aku selalu menemui kejanggalan dan merasakan kepedihan yang bisa membuat migrain kumat dan susah tidur.. hehee karena memang, kalau ada pikiran.. bercangkir kopi akan jadi sahabat karibku.
Gonjang-ganjing persiapan pernikahan selalu saja membuat hatiku meringis pedih. Kenapa ya, soal-soal sepele seperti pilihan tempat, pilihan waktu, pilihan menu catering, seragam panitia, adat mana yang mau dipakai, pembagian undangan antara pihak pengantin pria dan wanita dan sejutaaaaaaa hal remeh lainnya bisa membuat suasana begitu meng’gerah’kan. Tegang, saling ghibah dan hati bisa jadi begitu sarat dengan su’udzon.. untuk mempersiapkan acara yang harusnyaaaa.. begitu sakral.. indah.. suci… MasyaAllah!
Perdebatan soal hal-hal begitu bisa muncul antara orangtua pengantin dengan si calon pengantin, antara keluarga besar calon besan, antara panitia, bahkan… kadang ‘nyetrum’ juga ketegangan suasananya kepada kedua calon pengantin. Iya-lah, pastinya kan masing-masing akan membela pendapat keluarganya, merajuk supaya calonnya bisa membuat keluarganya mengerti dan menerima pendapat keluarga satunya.
Alamaaakk.. rumit betul memang ya, menyatukan dua keluarga besar, sampai semua pihak bisa lupa pada pertanyaan yang mendasar "Sebetulnya yang mau nikah siapa sih yaaaaaa…??"
Persiapan pernikahanku sendiri dulu jauh dari sempurna. Tidak luput juga dari rusuh, rungsing dan ketegangan (apalagi memang kejadiannya hampir berbarengan dengan kerusuhan politik beneran, yang membuat semua rencana matang mendadak jadi mentah kembali).
Tapi masih ingat betul aku, suatu malam.. Mama memanggil dan mengajakku bicara serius, panjang-lebar-luas dan dalammm sekali. Intinya, Mama berpesan bahwa sebagai janda, beliau tak kan mampu (lahir-batin) untuk menyelenggarakan pesta besar dan meriah buat pernikahanku. Tapi dia ingin menghadiahkan sesuatu yang istimewa, yang akan aku kenang sepanjang hayat, yakni ijab qabul yang khidmat. "Maksudnya apa sih?" Aku masih ingat, itu pertanyaanku pada beliau saat itu.
Dan Mama menjawab "Acara perkawinan hanyalah sekedar acara, akhirnya akan berlalu begitu saja. Tamu-tamu akan pulang. Undangan dan suvenirmu kemungkinan besar akan berakhir di tong sampah. Makanan akan habis, berakhir jadi sampah juga. Pakaian yang panitia pakai, akhirnya akan disimpan di lemari, kecil kemungkinannya dipakai lagi, syukur kalau bisa disedekahkan, tapi jarang juga kan kita kasih sedekah berupa kebaya kerlap kerlip? Yang tersisa buat Mama dan semua orang selepas acara mungkin hanya kaki yang pegal dan rambut kaku penuh hairspray. Tapi tidak begitu dengan kamu dan Adam, karena hidupmu, setelah ijab qabul akan berubah total, tidak akan pernah sama lagi. You will not be my little girl anymore, you’ll be a wife. Akan banyak tugas dan tanggung jawabmu, dan itu tidak akan ringan. Akan banyak ups & downs yang kamu hadapi dalam kehidupan rumahtanggamu, kemungkinan besar lebih banyak downs-nya. Akan ada masa kamu ngga kepingin senyum. Akan ada masa kamu ngga mengerti tentang suamimu atau dirimu sendiri. Akan ada masa kamu mempertanyakan, apa langkahmu benar dan bahkan mungkin sekali waktu akan ada godaan yang membuatmu ingin berandai-andai bahwa kamu ada dalam kehidupan yang berbeda. Semua itu harus kamu hadapi dan patahkan sendiri, ngga bisa lagi kamu berlindung di balik ‘rok’ Mama (entah apa arti sebenar-benarnya, tapi istilah -sembunyi di balik rok- ini lazim sekali dipakai dalam keluargaku). Pada saat kamu dihadang masalah, mudah-mudahan ijab qabul-mu akan jadi kenangan yang membekas, yang mengingatkan kamu dan suamimu bahwa komitmen kalian adalah kepada Tuhan. Dan mudah-mudahan ingatan yang seperti itu akan menguatkan kalian berdua buat terus memberi upaya yang terbaik, ngga peduli serumit apapun masalah yang kalian hadapi. Cuma itu do’a Mama setiap saat, supaya moment sakralmu bisa selalu kamu genggam.. tidak ternoda oleh segala kesibukan dan kegelisahan persiapan acaranya".
Duh, sekarang.. setelah makin sering aku mengalami hingar-bingar persiapan-persiapan pesta pernikahan sanak keluargaku.. makin sering juga ingatanku kembali pada ‘pidato’ Mama malam itu. Alhamdulillaahh.. betapa murah hatinya Allah pada aku, mengaruniakan Mama yang begitu bijak sehingga saat itu, detik itu.. kami bisa bersepakat buat meletakkan kesakralan di atas segala persiapan lainnya.
Kesepakatan itu artinya, menahan diri untuk tidak terpancing berdebat, berbeda pendapat, dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan santai dan penuh kenikmatan. Sulitnya jangan ditanya, menyatukan isi dua kepala saja sudah berat, apalagi ada banyak kepala yang terlibat dalam persiapan hajatan itu.. Belum lagi keterbatasan yang juga banyak dan kendala emosi dari diriku sendiri. Masa-masa itu adalah masa di mana hatiku separo marah pada dunia bahwa Papa tidak mendampingi aku, sehingga rasanya semua orang merasa punya andil buat mengatur acara-ku. Aku membayangkan, kalau saja Papa ada, pasti orang-orang akan segan, dan membiarkan Papa memutuskan (dan Papa, pasti akan berdiskusi dulu denganku sebelum memutuskan!) Bersyukurlah kalian yang menikah didampingi Ayah, karena ketiadaan sosoknya betul-betul membuat perbedaan. (Ini yang selalu membuat airmataku mengucur deras tiap kali ‘menonton’ adegan ijab qabul )
Kenyataannya, yang sekarang tersisa dari acara pernikahanku memang ‘hanya’ beberapa album foto yang sudah mulai kuning. Senyum-senyum simpul aku dan Adam yang mengagumi betapa langsing-nya kami 8 tahun silam. Tidak ingat lagi, bagaimana rasanya makanan hari itu, dan segala detail memang seperti menguap.
Tapi tidak bagian ijab qabul. Aku masih bisa merasakan tangis yang tertahan di tenggorokan, waktu aku harus menggenggam tangan Oom-ku dan menatap mata Ibuku, memohon izin buat dinikahkan. Aku masih merasakan genggaman tangan Oomku yang sejenak, mengingatkan aku pada genggam tangan Papa waktu menggandengku di masa kecil dulu. Dan aku masih merasakan, rasa yang tak bisa terkatakan, ketika mendengar Adam membacakan Al Baqarah ayat 128 sebagai mas kawin dan berijab qabul dengan Oom-ku. Aku masih ingat, do’a dan janjiku dalam hati, at that very moment, "Ya Allah, jadikan hati kami kokoh dalam iman, menjaga satu sama lain dalam keadaan apapun.."
Ternyata Mama memang benar.. tak ada yang lebih penting dari kesakralan ijab qabul. Itulah, saat malaikat pun berkumpul menjadi saksi dan perjanjian suci kita. Dan janji adalah sesuatu yang harus ditepati. Harus. Paling tidak, upaya untuk menepatinya harus betul-betul maksimal (dan sungguh, Allah Maha Tahu akan niat yang ada dalam hati tiap hambaNya, kan?).
Ternyata aku sungguh beruntung, karena antara aku dan Adam, ketika mempersiapkan pernikahan itu tidak ada beban untuk menjadikannya sebuah acara yang sempurna, sehingga kami justru bisa sangat santai menikmati diskusi tentang rencana-rencana buat masa depan, membicarakan prinsip dan pandangan yang tentang kehidupan berkeluarga, karir, anak, dll.. yang ternyata sangat banyak perbedaannya, tapi juga sangat melengkapi satu sama lain.
Mudah-mudahan, adik-adikku dan Adam.. teman-teman.. keponakan-keponakan yang masih sedang menjelang hari bahagianya dan bahkan someday, insyaAllah anak-anak kami berdua juga bisa mereguk kenikmatan pernikahan, lebih dari sekedar pelaksanaan perhelatannya.
Mudah-mudahan, tak usah kalian dipusingkan dengan keluarga ini maunya begitu.. keluarga itu maunya begini.. dan mudah-mudahan kesakralan perjanjian kalian di hadapan Sang Khalik akan menjadi hal yang jauuuuuuh lebih utama dan berarti dibandingkan meributkan, siapa yang menyetor lebih banyak modal sehingga lebih berhak ‘mengatur’pesta pernikahan kalian. Ah, sungguh suatu ‘kemiskinan hati’ dan kepicikan yang luar biasa apabila hal-hal duniawi seperti itu menjadi titik pangkal kalian dalam mengawali kehidupan baru sebagai seorang suami dan istri!!
Semakin dekat kalian dengan saat ijab qabul, semakinlah perkaya hati kalian mencari modal hakiki yang betul-betul akan kalian butuhkan dalam kehdiupan perkawinan kalian, yakni ketenangan hati, mencari ridha Allah swt dan menambah khasanah ilmu supaya saat menghadapi ‘Ujian Nasional’ yang berulang-ulang dalam bahtera perkawinan nantinya, tidak ada istilah tidak lulus untuk mencapai rumahtangga sakinah, mawaddah nan penuh rahmah.. (karena rasa2nya, sulit mencari ujian ulangan atau paket C untuk ketiga aspek itu
Mudah-mudahan, kala aku menjadi Tante, Bude, atau bahkan si Ibu Pemangku Hajat kelak, aku mampu membekali si calon mempelai dengan modal yang tidak semata ‘habis’ ketika pesta usai.. tetapi modal yang bisa mereka pakai, ketika kelak Allah swt meminta pertanggungjawaban atas janji mereka berdua di hadapanNya.
******************hds/Juli 2006