Ikhlas yang masih membutuhkan keikhlasan
Tuesday, July 12th, 2005"Apabila kamu masih bisa melihat keikhlasan di dalam keikhlasanmu, masa sesungguhnya keikhlasan itu masih memerlukan keikhlasan yang jauh lebih besar lagi" (Abu Yakub Assusy)
Beberapa saat yang lalu, saya dikecewakan oleh seorang teman.. seorang sahabat malah. Singkat kata, ternyata saya salah menilai persahabatan kami. Dan pedihnya ditikam dari belakang, tak tergambarkanlah dengan apapun. Sampai beberapa hari setelah kejadian, saya masih menangis.. bukan karena perlakuan yang saya terima, tetapi lebih karena mengenang indahnya hari-hari ketika persahabatan itu masih seperti sangkaan saya; mutual.. berlaku 2 arah.
Hari-hari setelah itu, ketika air mata mulai surut.. saya mulai berpikir, where did I miss? Kenapa saya bisa berada dalam sangkaan yang salah? Kenapa saya bisa keliru menilai persahabatan itu? Kenapa dia tega…? Yang saya rasakan bukan kebencian, bahkan tidak juga dendam. Kalau boleh jujur, saya justru mati rasa..
Lalu seperti biasa, sejak kecil bila saya menemui masalah hingga sekarang, saat sudah ber-anak 2.. Ibu datang menangkap kegelisahan saya. Cuma dengan usapan-usapan di punggung, tanpa kata-kata.. Tapi bisa membuat saya menumpah-ruahkan semua rasa perih. Saya menceritakan, betapa saya, dulu.. sangat menyayangi sahabat saya ini.. Betapa saya, dulu.. ikut terlibat mengurusi anak-anak sahabat saya ini (yang saya pikir, tak lain adalah anak-anak saya juga!)… Betapa saya, dulu.. selalu dimintai tolong ikut menyelesaikan masalah-masalah sahabat saya ini.. yang sepele sampai yang menyita batin.. yang sederhana sampai yang rumit.. di siang bolong maupun di tengah malam buta.. Betapa saya, dulu.. all ears, siap sedia mendengarkan semua keluh kesah dan menjadi tong sampah untuk semua masalahnya.. Betapa kalau mengenang semua yang saya lakukan untuknya, dulu.. saya begitu sedih.. pilu mempertanyakan kenapa dia bisa melakukan semua ini pada saya ?? "Padahal dulu itu saya melakukannya ikhlas sebagai sahabatnya lho Ma…" begitu saya menutup keluh kesah saya pada Ibu..
Menanggapi ceracauan panjang lebar saya itu, dari mulut Ibu, cuma keluar satu kalimat pendek.. "Ikhlas itu ngga ada past tense -nya, nduk.." Singkat tapi menghujam jauh ke hati.
Dari kecil, Kakak saya & Saya memang sudah terbiasa dengan Ibu yang perfeksionis soal bahasa. Kalau ada kesalahan pengucapan, apalagi susunan kalimat (terutama dalam bahasa Indonesia lho!) pasti beliau akan langsung mengoreksi. Tapi koreksinya kali ini.. saya yakin, bukan didasari permasalahan tata bahasa yang salah. Dari sorot mata dan usapan di pundak, saya mengerti bahwa Ibu sedang menegur saya, karena apa yang saya lakukan pada menit & detik itu.. adalah jauh dari keikhlasan. Saya tengah menghitung jasa dan saya tengah kecewa, karena apa yang saya lakukan tidak mendapat ‘balasan’ yang sesuai. Setengah tersenyum (karena jujur, masih ada sedikiit rasa getir menggelayut di hati), saya merasakan malu yang amat sangat pada diri sendiri. Seperti dihadapkan pada cermin yang menunjukkan betapa tidak tulusnya saya.. betapa berpamrihnya saya atas apa yang pernah saya lakukan.
Dan yang lebih memalukan lagi, jika direnungi lebih jauh, betapa seringnya pamrih itu muncul dalam keseharian.. dari mulai membuka mata, ketika berinteraksi dengan suami dan anak-anak.. sampai ke sekolah, tempat kerja saya, ketika melayani para orangtua murid dan bersentuhan dengan kolega. Tentu saja saya tak akan pernah puas, karena untuk tiap hal yang saya anggap baik untuk dilakukan, minimal ada pengharapan bahwa orang mengakuinya.. atau bahkan sebisa mungkin membalasnya juga dengan kebaikan.
Ah, ternyata… Begitu tinggi saya ‘menghargai’ diri sendiri.. Begitu ujub -nya saya pada kemampuan, yang datangnya tak lain karena kehendak Allah semata.. Astaghfirullah al’adziim…!!