Catatan 1 Ramadhan 1429 H

August 31st, 2008 by amandaiko

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah ditawari oleh Allah SWT, bahwa jalan raya yang berada di Makkah akan dijadikan (dipenuhi) dengan emas untuknya.

Akan tetapi beliau menjawab,
”Tidak, ya Tuhanku, tetap aku (memilih) kenyang sehari dan lapar sehari (beliau mengulangi ucapannya sampai tiga kali). Dengan begitu, kalau aku lapar, maka aku akan selalu merendah diri kepada-Mu dan akan selalu ingat kepada-Mu. Dan apabila aku kenyang, maka aku akan bersyukur dan memuji-Mu.”

(HR. At-Tirmidzi).

****************************************

PUASA ITU SEDERHANA
oleh Toto Tasmara

Dalam rangka menggapai ketakwaan sebagai tujuan berpuasa, ada baiknya sesekali melakukan perenungan yang mendalam terhadap niat dan perilaku kita. Niat bukan hanya sekadar kemauan (wants, interest, desire), tetapi sebuah komitmen, sebuah akad yang mengilhami seluruh relung jiwa yang melahirkan kesungguhan (jihad), tekad dan nyala api yang tak pernah padam. Niat merupakan dorongan yang maha kuat, sebuah motivasi (berasal dari bahasa Latin, movere yang artinya bergerak keluar, senada dengan kata emovere, emosi) untuk mewujudkan seluruh harapan dalam bentuk tindakan.

Kualitas pekerjaan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas niatnya. Begitu juga dengan berpuasa. Kita diminta untuk memasang niat berpuasa, sebuah dorongan dan nyala api untuk melaksanakan puasa dalam arti yang utuh, yaitu ibadah yang bersifat personal dan sekaligus sosial. Bersifat personal, dikarenakan puasa merupakan bentuk pencerahan batin (Tarbiyatul Qolbi). Hati yang telah tercerahkan akan berbinar cahaya (nur) sehingga dia mengetahui secara jelas (karena diterangi cahaya), mana yang hak dan mana yang batil.

Puasa akan melahirkan kejujuran, amanah dan menumbuhkan semangat pelayanan (sense of servitude) yang sangat tinggi. Penghambaan dirinya kepada Allah yang dinyatakan setiap hari minimal 17 kali (iyyaka na’budu) diterjemahkannya dalam bentuk perilaku yang aktual dengan cara menunjukkan sikap pelayanan yang bertanggung jawab (stewardship). Ini semua bermula dari niat yang disertai dengan ilmu dan arah yang benar. Nabi bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan penuh perhitungan, akan diampuni dosa-dosanya."

Dari hadis ini tampaklah bahwa iman merupakan dasar dipasangnya niat yang disertai ihtishab sebagai proses penelitian bahkan menguji diri sendiri (self examination). Sehingga, kualitas niat berpuasa akan melahirkan dua hal besar yang akan merubah sikap hidupnya. Pertama, niat berpuasa karena rasa cinta dan rindu yang teramat sangat untuk menghadirkan wajah Allah, sehingga mereka hanya memalingkan seluruh harapan dan tindakannya untuk selalu berpihak di jalan Allah (Al Shirath Al Mustaqiim).

Kedua, mereka mewujudkan niatnya tersebut dalam bentuk sikap hidup sederhana bahkan melatih untuk hidup berkekurangan, sebagaimana doa Rasulullah: "… Yaa Allah, jadikanlah hamba kenyang sehari dan lapar sehari. Agar pada saat perut kenyang, hamba mau bersyukur, dan ketika lapar hamba menjadi orang yang sabar."

Para assabiqqunal awwalun (path finder) menjadikan sikap hidup sederhana (wara’) sebagai hiasan perilaku hidupnya. Pada suatu saat Umar bin Khattab ditanya, "Kenapa Anda makan gandum yang kasat dan berpakaian sangat sederhana. Dan Anda hanya minum air putih setiap hari, padahal Anda adalah Al Farouk-Pemimpin umat yang besar?" Umar bin Khattab menjawab: "Aku menjadi pemimpin ini dipilih oleh rakyat, di antara mereka masih banyak yang hidup sangat sederhana bahkan dalam keadaan miskin. Tidak pantas seorang yang dipilih rakyat, makan dan minum serta berpakaian melebihi rakyatnya!"

Puasa telah melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia (noble paragon). Puasa telah melahirkan tipikal para pemimpin masa lalu yang hidup sederhana bahkan berkekurangan, karena dia menjaga diri (iffah) agar tidak diperbudak oleh dunia. (agi)

Sumber : Mutiara Hikmah, Republika 2008

Pindahan…!

September 23rd, 2007 by amandaiko

Alhamdulillaaah akhirnya bisa posting lagi :-) Udah lama bangeeed ya ga bisa online dalam waktu yang lama (secara cuma numpang di sekolah yang masih pakai dial up), ga bisa bales2 email panjang lebar, ga bisa posting updates di multiply atopun blog fs dannn ga bisa blogwalking ke temen-temen… (jangankan online, nonton tipi aja jadi jarang niyy..hihiii)

Jadi ceritanya berawal dari 3 Juli yang lalu.. Keluarga Adam Armansyah, dengan 1 mobil box dan 1 kijang ‘hijrah’ ke rumah Bintaro.. Yupp, rumah yang udah setahun lalu mulai Bapak cicil dari kantor, akhirnya bisa kita tempatin. Sebelumnya, Bapak dan Ibu dah beberapa kali nyoba nginep sana.. ngetes air, listrik dan beberes.  Yang jelas, bener tu kata orang.. pindahan itu ngga beres-beres deh urusannya.Ada aja barang yang masih ketinggalan, nemu lagi box yang belum dibongkar, waaaks…

Tanggal pindahan ini disesuaikan sama liburnya Ibu dari tempat kerja. Ternyata ya risikonya kerja di sekolahan.. baru bisa off kalo sekolahnya libur, hehe.. Dan Bapak tu pinter banget deh.. dia tau gimana cengeng dan sentimentilnya Ibu, jadi yang tadinya Ibu pikir di hari libur pertama itu kita mau boyongan barang aja.. eh.. sampe sana abis bebongkaran, Bapak bilang "kita ngingep aja ya malem ini.. capek euy abis bongkaran musti nyupir balik ke cik ditiro.." Ibu setujulah, lha wong memang capek dan rasanya kaya kebungkus debu gitu. Eeee.. tapi tau ga sih, begitulah sudah.. malem-malem berikutnya pun kita nginep di sana, alias langsung tinggal. Jadi emang ngga ada kesempatan terisak-isak di depan rumah seperti bayangan Ibu (seperti waktu harus ngelepas Fiat Uno si mobil kenangan..)

Ada sih rasa miris dan ngilu kalo inget kenangan yang kita abisin di rumah cik ditiro.. Perjalanan waktu dari cilik sampe udah punya 2 buntut ini kan cukup panjang dan nyimpen sejuta cerita. Tapi ah, harus terus ngingetin diri sendiri buat realistis.. Kita hidup kan harus menjejak bumi. Dengan segala kenyamanan dan kemudahan tinggal di situ, kenyataannya memang kita ngga bisa lagi.. Dari sisi PBB yang mneggila (tanpa timbal balik fasilitas whatsoever dari negara), ukuran rumah yang kelewat besar.. Belum lagi fakta bahwa itu adalah rumah keluarga besar, dan para pemegang hak atas rumah itu sudah mulai berangkat tua.. Walaupun oleh Eyangnya Ibu, mereka semua dibesarkan dengan penuh cinta dan luar biasa rukun, Ibu dan PakDe.. anak-anak Eyang yang kebetulan dapet amanah buat menempati rumah itu ngga berani berasumsi bahwa kita memang akan bisa terus tinggal di
sana.

Singkat kata, akhirnya kita putuskan untuk mulai mencicil rumah, setidaknya sudah tersedia atap baru buat Eyang dan anak-anak, supaya kelak kalau satu hari tiba waktunya meninggalkan zona nyaman di cik ditiro itu.

Buat Eyang, kepindahan ini tanpa target waktu.. karena pastinya sulit untuk beliau pergi dari rumah itu. Pokoknya tugas kami adalah bikin rumah baru senyaman mungkin buat beliau. Dan supaya penyesuaiannya smooth  & ngga terlalu drastis terasa perubahannya, pelan-pelan kita ajak nginep tiap weekend, sampai insyaAlloh suatu hari nanti beliau siap untuk pindah.. for good. Do’ain ya!

Buat kami berempat.. pindah ini tentunya juga punya banyak akibat (yang paling jelas ya soal internet ini.. hahaaaa :-)). Dari mulai ukuran rumah yang Alhamdulillaaaaaahh.. menyusut jauh, sehingga rasanya cukup kepegang buat beberes, nyapu, ngepel, nyuci, nyiram, masak tiap hari walaupun tanpa asisten (haduh coba di cik ditiro.. ngebayanginnya aja gempor joooo, apalagi ngelakuinnya).

Terus berhubung rumah baru, tiap hari ada kerjaan nukang (mostly buat Bapak siy..) dari mulai ledeng, listrik, saluran air, dll. Karena ngga ada asisten, Ibu juga Alhamdulillah bisa mengasah kemampuan olah tubuh teruusss.. karena kerjaan rumah tangga kan emang ga ada ujung pangkalnya ya, dari melek sampe merem adaaaa aja. Makanya kekhawatiran Ibu tentang ngga ikutnya perangkat komputer ke bintaro langsung terjawab dengan kenyataan bahwa… memang ngga ada waktu tuh buat duduk leyeh-leyeh.. kalaupun ada dan bisa, pasti rasanya sayang banget dipake ngapa-gapain.. mending tidur aja sekalian… hahaaaaaaaa

Kalau udah begini, juga baru terasa lho, ni’matnya punya anak-anak yang udah mulai besar.. bisa bagi tugas sama mereka. Lebih berasa lagi efeknya ngga pernah pakai mbak khusus atau suster buat mereka, karena minimal buat hal-hal sepele seperti jemur handuk habis mandi, taruh piring & gelas kotor di sink habis makan, makan minum di meja makan, beresin buku dan mainan sendiri.. mereka bisa kerjain tanpa terlalu kaget. Pelan-pelan mereka sekarang juga bisa bantuin Ibu buat ngurus keperluan sekolah masing-masing.. seperti nyiapin seragam, nyediain wadah buat bekal sekolah. Bahkan Ibu dan Bapak jadi lebih bisa mengenal mereka, misalnya si Kakak Manda yang ternyata anak rumah banget, jadi harus didorong-dorong buat main di luar tiap sore.. sementara itu ade Ai ternyata somehow trampil bener urusan rumah tangga, udah cukup faseh misahin cucian putih & warna, ngelipetin pakaian yang abis dijemur dan nata meja kalau mau makan. Yang kaya gini kan Bapak dan Ibu mungkin ga akan belajar dan tau, andai kita ngga pindah… heheheee.. emang ada hikmah ya dalam tiap keadaan.

Anak-anak juga dapet sesuatu yang belum pernah mereka alami sebelumnya.. yaitu nenangga! Hihiii.. hari pertama di sana, langsung ngilang tu dua-duanya, dan pulang-pulang laporan deh tentang nama-nama tetangga dan anggota keluarga mereka. Kasian banget yaaa, biasa tinggal di pinggir jalan raya yang depannya metro mini wira-wiri terus dan tetangganya udah sepuh, jadi kayanya giraaaang banget bisa main sepeda sama sebayanya di depan rumah. Nhaaa, berkaitan dengan tinggal di kompleks ini, yang baru buat Bapak Ibu adalah harus ngajarin tata cara bertamu ke mereka, heheee.. Maklum deh ya, dua anak ini kelewat pede dan ngga pemalu sama sekali, jadi sakit perut aja ngebayang kalau mereka bertamu terus minta ini itu di rumah orang… ampuuuun!

Soal jarak tempuh tiap hari.. well, secara jarak sebetulnya lebih dekat (ini berlaku buat Ibu dan anak-anak).. Kalau buat Bapak, ukurannya bukan lebih jauh atau dekat (karena gimanapun juga teteeub harus ngedrop Ibu dan anak-anak di sekolah), tapi jadi lebih masuk akal aja, dibanding dulu.. dari cik ditiro nyupirin kita ke cipete, terus balik lagi naik busway ke imam bonjol  Kalo sekarang kan, searah ya pak.. dari Bintaro ngedrop kita di cipete, terus lanjut ke imam bonjol (teteuub pake busway):-)

Kita memang harus berangkat lebih pagi karena harus mengantisipasi macet di ruas citos-antasari. Kalau dari rumah sampai citosnya sendiri si bisa ditempuh dalam waktu 10-15 menit aja.. Tapi sisanya itu lhooo.. apalagi kalau senin, untuk sebab yang ngga jelas, bisa-bisa setengah jam sendiri!

Biaya untuk tol juga jadi agak mahal karena ndilalah, beberapa jenak setelah kita pindah, kok ya harga tol naik drastis banget! Dari rp 4.500 jadi rp 8.000 one way  Kadang kalau lagi ngga buru-buru dan bukan jam macet, kita ambil jalur deplu aja biar ngga usah lewat tol. Ini mah risikonya pindah ya, karena memang kita ngandelin tol.. jadi diserahin sama Alloh aja deh urusan ini.. karena kalau dipikirin jadi mumeeeet.

Di sisi lain, karena kita ngga ada asisten di rumah, Ibu (punya alesan kuat buat) ngga lembur lagi.. karena anak-anak kan harus pulang bareng, dan musti ada cukup waktu buat masak makan malem (tau dong ya skill memasak Ibu ini  jadi kan ga bisa buru-buru, heheee) jadilah setiap hari Alhamdulillah kita bisa sampai rumah selagi langit masih terang benderang.

Cuma aja karena letak rumah jauuuh di dalam kompleks, mobilitas Ibu dan anak-anak Moved1
kalau udah sampai rumah jadi terbatas. Ibu jadi berasa banget keilangan bajaj! Sebab di Bintaro andelannya ya hanya ojeg, dan terus terang buat kendaraan yang satu ini Ibu mah bener-benerrrrr ga pede (alesannya, kan susah yaa kalau mau pergi bertiga sama anak-anak, sementara kalo naik bajaj kan bisa keangkut semua tuh! kikikiiiiiikkk..)

Alhamdulillah wa sykurilaaah.. dengan segala keterbatasan, kesulitan dan masalah penyesuaian diri di tempat baru, kami sekeluarga ngerasain ni’mat yang luaaaar biasa yang Alloh karuniakan dari kepindahan ini.

Anak-anak jadi lebih intens berinteraksi (yang artinya juga lebih sering tawuran), Ibu juga jadi lebih punya banyak waktu buat ngobrol dan main sama mereka (termasuk juga ngomelin).. Bapak, walaupun nyampe rumahnya jadi lebih malam karena harus naik KRL atau bus transBintaro, tapi jadi ketahuan punya hobi dan bakat berkebun… (tiap weekend adaaaa aja ulahnya di kebun yang secuil itu)

Rasanya hampir sempurna kehidupan kami berempat, berumah-rumahan.. mengenal satu sama lain lebih dekat.. mendapat kesempatan buat memprioritaskan keluarga di atas segala yang lain.. menambah skill ‘nukang’ dan ‘bertetangga’.. Hmmmh, sungguh ni’mat Alloh yang mana lagi yang bisa kami dustakan…??

Do’akan yaa,semoga.. insyaAlloh, kepindahan ini barokah dan semua titipan dunia ini menjadikan kami lebih giat mengisi tabungan akhirat… Aaamiiin ya Alloh ya Rabbal alamiiin….

Haduh.. anak sekarang ;-)

May 14th, 2007 by amandaiko

kalo dipikir-pikir dan diitung-itung, udah berapa kali ya gue kerja - menghasilkan uang sendiri?? Waktu bikin parsel lebaran? Nerjemahin? Jadi LO buat orang2 asing di acara konfrensi apa itu? Jadi pegawe magang di Binabud, sampe akhirnya permanen? Bikinin wording buat special occasionnya temen dan saudara2? Bikinin paket2 hantaran / seserahan buat kawinan temen2?

Ngga inget persis deh apa aja yang udah pernah gue kerjain dan menghasilkan uang, tapi satu hal yang gue inget banget adalah bahwa gue ga pernah bisa kalo harus nyebutin di depan (sebelum mulai kerja -whether partime atau permanent) berapa "HARGA" gue.. hii.. rasanya gimana gitu lho. Biar aja sih orang menilai hasil kerja gue dulu, nanti gue yakin pasti reward yang gue dapet bakalan sepadan.

Ga takut underpaid? Hahaaa.. gue ga punya standard sih kali ya. Kata almarhum Bokap gue, kerja itu bukan cuma buat dapet imbalan berupa duit. Yang paling penting kamu seneng atau ngga ngerjain kerjaan itu dan kamu belajar ngga dari kerjaan itu. Kalo dua hal itu ngga dapet, ya duit berapa gedepun ga bakal kerasa cukup.

Yah kalo mau dikait-kaitin sama iman, gue ngerasanya.. toh Alloh yang Maha Tepat dalam janji2Nya itu emang udah menjamin rizki gue. Apakah itu lewat coret2 puisi, lewat terjemahan, atau apalah.. itu cuma sekedar jalannya aja, bukan??

Gue ngerasanya, semua yang ‘mempekerjakan’ gue, sampe hari ini.. Alhamdulillah ga pernah kurang dalam membayar gue. Dengan ngga menyebutkan harga, terus terang yang sangat gue nikmati adalah ‘the element of surprise’ atas apa yang gue dapet sebagai imbalan… apalagi buat kerjaan2 insidentil.. Ada yang ‘mbayar’ gue pake a box of chocolate, ada yang ngasih voucher,  ada juga yang mbayar pake pandangan kagum berbinar-binar.. kayanya takjub banget gitu lho sama hasil kerja gue.. waaaaa, itu pun ngga terkatakan lho bangganya! Dan kenikmatan itu berlanjut, kala mereka datang lagi dan lagi dan lagi untuk minta gue.. Ga tau deh ya, rasanya berarti gitu lho diri gue… biarpun cuma buat sekedar bikin parsel :-)

barangkali itulah sebabnya, hari ini gue shock banget.. dikontak sama seseorang yang seinget gue, beberapa waktu lalu MINTA KESEMPATAN buat nyoba ngerjain sesuatu.. dan setelah gue kasih kesempatan itu, eeee… dia bilang imbalan yang dia dapet ga sepadan.

sesorean ini deh gue kaya orang linglung.. rasanya nyeseeeeeeeeeeellll banget ngasih kesempatan itu ke dia, yang notabene belum punya pengalaman dan harusnya belum bisa matok harga (lha dik, wong saya yang udah setua ini aja belum pernah matok harga ke orang…) Padahal hasil kerja dia masih jauh bangeeeet dari sempurna.. dan harusnya, menurut gue, sebagai pemula dia lebih concern sama kekurangan2nya, di mana dan gimana dia bisa memperbaiki dst dst… lha kok bisa malah dia ngeributin soal imbalan..??

ya sudah dik.. kurogoh saja kocekku sendiri buat nambahin imbalanmu, walaupun asal kamu tau saja, hasil kerjamu sebetulnya masih sangat tidak memuaskan dan tadinya buatku, ketidaksempurnaan itu wajar saja buat seorang pemula.. tapi attitude mu membuat pengalamanku memberi kesempatan buatmu ini tidak saja sekedar mengecewakan, tapi traumatik… kapok lah gitu singkatnya! Tapi biar sajalah orang lain dan kesempatan lain nanti yang mengajarkanmu tentang real life dan makna imbalan yang sebenar-benarnya. Gue si males deh ah kalo harus berurusan lagi sama dikau… udah ketawan aslinya gitu, hiiiiiiii……!!

akhirnya gue musti sepakat juga ni sama pendapat Adam yang suka misuh-misuh kalo abis interview anak2 yg baru mau lulus.. "Haduuh anak sekarang, lulus belum, pengalaman kagak ada, ngasih unjuk kebisaannya apa juga belum bisa, tapi udah nyecer bakal dapet gaji berapa….."

barangkali inilah tanda-tandanya udah tua ya? heheee..

sekali lagi Alhamdulillah wa syukurilaaah, buat segala nilai hidup yang almarhum Bapak gue wariskan buat gue.. Mudah-mudahan keteguhan prinsip itu nanti bisa juga gue warisin ke anak-anak gue, walaupun jaman mereka mestinya lebih edun lagi dari jaman ini…

Barangkali memang begitu ya..

May 3rd, 2007 by amandaiko

some people,
dibesarkan tidak untuk memahami values
pun tidak diajarkan tau yang namanya manners
jadilah tidak merasa jengah, sungkah apalagi bersalah
buat ‘menghalangi’ jalan orang lain..

seperti yang saya temui sore tadi..
sebuah mobil keren, 1539 IK
santai aja tu parkir di depan pintu pagar
tak bergeser sesentipun
walau yang punya rumah sudah minta2 dia pindah
supaya yang punya rumah ini
bisa masuk rumahnya sendiri.. lho.. aneh kan??
yang BUKAN pemilik rumah malah ngeyel lho parkir di situ

ada kata maaf..?? hahaaa.. ini Jakarta
ini eranya "terserah gue" dan "emang gue pikirin"

parahnya lagi.. seseorang dalam mobil itu
daftar ikutan program pertukaran pelajar..

halah.. baru soal parkir aja udah ga mikirin orang
gimanalah pula nanti dia mau berbagi manfaat
sepulang dari program?
haha.. malah ngga nyampe kali dia ke manfaat program..
yang begini ini yang pastinya ikut buat jalan-jalan..
yang begini ini, yang pastinya ga punya potensi yang kucari..

betul-betul ini hari yang (sekali lagi) penuh syukur,
karena dibesarkan oleh sepasang orangtua
yang gigih dan teguh berpegang pada prinsip
yang galak setengah modar, when it comes to values & manners..

duh Gusti..
moga-moga bisa kubesarkan dua malaikat kecilku
betul-betul jadi manusia yang punya hati..
hati yang enggan membuat orang lain susah..
hati yang tak sudi meremehkan aturan..
semoga..

Mahal Kita, Bapak Adam..!

April 20th, 2007 by amandaiko

dulu
pikirku, kamu itu sombongnya paling pol..

susah senyum..

jarang ngomong..

sama senior (yang kayanya serem-serem itu) sok akrab..

tapi sama kita yang seangkatan, cuek banget..

tau ngga sih,

sebelnyaaaa.. luarrrrr biasa !

sampe ngga cukup tu sebel sendirian,

jadi harus mengerahkan kesebelan temen seangkatan..

hahaaaaa….

malu banget ngga sih ya,

don’t know when.. where nor how

kok sebel itu jadi lumer..

rontok pelan-pelan..

terus tumbuhnya jadi bunga-bunga indah

yang bikin jantung deg-deg serrr..

walopun tentunya gengsi buat ngaku,

tapi kok aku jadi menikmati

senyam-senyum ngebayangin mukamu

yang seperti beruang es itu..

waaks…gitulah awalnya cinta monyet itu..

dan masih kebayanglah muka temen-temen angkatanku

waktu malu-malu kuakui “dia itu pacarku”

ga ada yang ga memekik, “kualaaaaaat…!!”

dan dari situlah..

kita mulai menapak hari-hari

mengisinya dengan debat, cekikik tawa, air mata

omelan panjang (pastinya dari aku..)

dan muka bete sepuluh meter tanpa bunyi

(tau dong.. itu muka siapa??)

dari bolos pelajaran geografi & bimbingan tes

(uppps jangan sampai anak-anak tau sejarah ini ya!)

ngedate di stasiun manggarai kala pagi buta, stasiun cikini, balairung dan

halte FE,kansas, peach dan ayam bakar christina..

sampai mansion shinjuku kita..

dari nongkrong di bagian vw kodok merahmu

yang jendelanya tak bisa diturunkan

tak berkursi belakang pula’

(dan apesnyaaa.. ngajak senior pulang, jadilah musti sok berkorban duduk di belakang..well..well..  jaim itu menyakitkan ya!)

accord biru yang mengagumkan

(karena itu kali pertama aku lihat tape player bisa dicopot dari tempatnya.. hahaaa!)

peugeot putih pinjeman yang musti ditarik di sepanjang jalan ps. minggu..

(lepas pula talinya… alamaaaak!)

sampai fiat UNO penuh kenangan,

yang akhirnya pun musti kita lepas dengan derai air mata.. hiiiksss

dari bajaj, kereta api jakarta-depok,

bus kuning, bus patas, chikatetsu, taxi yang pintunya bisa buka-tutup sendiri

sampai kopaja dan busway..

dari si igu dan ana,

spotty -dalmatian kocak yang membuat kita menyerah,

sampai pasukan nemo & teman-temannya

yang membuat kita rela berjam-jam keliling pasar ikan hias sumenep

dari djakarta theater, megaria, tim,

kalo lagi kaya ke planet holywood atau pim,

sekarang langganan di setiabudi

sampai coba-coba blitz yang ternyata ga nyaman..

dari cuma bisa ngerekam kompilasi lagu di kaset

sampai bisa burn cd

dan download mp3 dari internet

dari ngemper nonton jakjazz

masuk jhcc nonton Chrisye

sampai rutin ke GKJ buat teater koma

dari jam-jaman manasin kuping di telepon rumah

(dan diomelin karena tagihan bikin jantungan),

sangu kartu telepon & cepe’an tipis buat telepon umum,

pager ’starko’ dan ’starpage’ yang membuat kita mencipta
nama AMANDA..

sampai akhirnya bisa punya hp..

dan sekarang malah bisa motret pake hp

(walopun masih terlalu gaptek buat kirim2an mms)

dari ngantri di dokter kandungan,

sampai dokter anak..

dari daftar ulang universitas,

bikin cv, cari kerjaan

sampai cari sekolah buat anak-anak..

waaahhh… barangkali kalau mau mengenang seluruh cerita hidup yang kita alami

ga akan ada kertas yang cukup buat memuatnya..

ga ada kombinasi warna yang cukup banyak

buat menggambarkan ’semaraknya’ perjalanan
tumbuh kembang kita berdua

dari kurus-tirus, sampai bulet subur begini

begitu banyak yang kita perdebatkan,

yang bisa bikin kita berantem..

aku yang super duper bawel, ingin membahas dan merasakan semua hal yang ada

dan kamu yang begitu hemat bunyi dan ekspresi,

selalu punya gua kecil yang kamu masuki

buat mengabaikan segala hal yang buatmu gak penting..

dua jiwa.. dua karakter yang luar biasa berbeda..

(hahaaa.. not to mention menyatukan diri dengan keluarga besar)

dari mulai urusan cara bersin, taruh pakaian kotor, ngorok,

dan gimana menghabiskan waktu senggang

sejujurnya nggak terbayang,

perbedaan itu bisa melebur jadi satu..

dan mungkin,

memang ngga pernah melebur ya?

sekarang..

ada banyak saat aku justru merasa

tiba-tiba saja.. sangat mengerti jalan pikiranmu

dan sangat nyaman menjadi diriku di depanmu

(karena kamu pasti mengerti aku..)

sekarang..

sepertinya, aku sudah banyak menjadi kamu

dan kamupun sering serupa aku

dalam tingkah dan bahasa hati

Perjalanan kita,

ga selamanya mulus ya pak..

banyak goncangan dan batu besar

yang cukup sering membuat kita ngos-ngosan

tapi dari titik ini,

titik di mana aku berdiri saat ini..

perjalanan itu seperti sebuah lukisan indah..

tiap goresannya punya makna yang dalam

tiap guratannya punya cerita yang berarti

segala kesulitan, ketakutan, kecemasan, kesedihan, kesakitan

juga segala yang lucu, menyenangkan, mengharukan..

semua jadi bagian dari proses kita..

dari seorang Adam dan Hanni.. menjadi Bapak dan Ibu..

pembelajaran dari segala yang pernah kita perjuangkan

sampai pada titik di mana semua pelan-pelan bisa kita serahkan

pada Sang Pemilik Kehidupan…

ah Bapak..

tiba-tiba saja aku sadar di titik ini..

terimakasih macam apa

yang bisa kuberi buat kamu ya..?

karena pastinya aku gak akan bisa beri setimpal

dengan pengorbananmu..

setiap hari berpanas hujan

menjalani rute cikditiro-cipete-imam bonjol

naik bus dan bahkan jalan kaki

sementara aku dan anak-anak nyaman dalam dekapan ac mobil

ya.. mobil hasil jerih keringat dan payahnya lemburmu di kantor..

belum lagi letih lelahmu mengurus anak-anak..

mendengarkan cerita dan keluhanku tentang berbagai masalah..

mencarikan informasi tentang berbagai hal yang kuperlu..

membetulkan berbagai benda yang rusak untukku..

menciptakan lawakan, yang walaupun garing

tapi mampu membuat hari-hari melelahkan jadi terang kembali..

membuat aku gak pernah merasa sendirian

buat membalas semua yang kutulis itu

beserta sejuta hal lainnya yang sudah kau beri padaku

hanya Sang Khalik-lah yang punya kemampuan..

penuh syukur aku berdiri di sini

bahwa Dia mencipta kamu

dengan segala yang ada pada dirimu..

membuat aku merasa lengkap, utuh dan dicintai..

sarat do’a hatiku saat menumpahkan kata-kata ini..

memohon sejumput kesempatan kepadaNya

untuk bisa membahagiakan kamu

dengan sedikit yang aku mampu lakukan..

semoga Alloh Yang Maha Penyayang,

mengizinkan ya Pak..

=======================================================

buat
Bapak Adam, dari hati yang penuh cinta

Love

17 April 1992-18 April 1998-18 April 2007

Mahal kita, itsu made mo…

Kenapa Toilet Training PENTING ??

March 29th, 2007 by amandaiko

Toilet"Tempat mandi tidak amaaaaaannn!! ada banyak laki-laki…!!" begitu teriakan histeris sulungku, Amanda pada salah satu les renangnya, sambil ngacir keluar dari kamar bilas

Setelah kuperiksa, ternyata betul juga, banyak betul anak laki-laki di dalamnya. Ganti baju seenaknya pula, bugil di tengah ruangan tak berpintu !#$%^!!! Duh gusti… ampuuun deh!! Sementara selama ini mulut Adam dan aku sampai berbusa, selalu berusaha mengingatkan anak-anak untuk berlaku pantas.. tidak buka baju di depan umum, apalagi di depan laki-laki, kecuali Bapak..

Sekedar untuk bisa dibayangkan saja ya.. Penjelasan semacam ini, buat seorang Aiko sih cukup gampang diterima.. tapi tidak buat Amanda karena masalah ‘pantas tak pantas’ sepertinya terlalu abstrak buat dia mengerti.. sampai akhirnya ketika masuk SD dia sendiri bisa membuat kesimpulan bahwa untuk buka baju dia perlu mencari tempat aman.. yaitu tempat yang tidak ada lelakinya! –dan sejauh ini kami biarkan dia dengan kesimpulan itu, yang penting she gets the point.

Jadi itulah kenapa PENTING BANGET mengajarkan anak-anak kita toilet training…karena ternyata, jadi pemandangan yang ngga ada lucu-lucunya.. bahkan boleh dibilang amat sangat mengganggu.. kala pergi ke toilet perempuan, dan ternyata isinya ada begituuuuuuu banyak anak laki-laki yang sudah cukup gede (pastinya bukan batita atau bahkan balita lagi!) ada di situ.. dengan alasan "belum bisa buang air sendiri, masih harus dibantu Nanny, Suster atau Mbak"..

Hati ini gundah sambil bertanya-tanya.. Sebetulnya, memungkinkan ngga sih ya.. sebagai orangtua kita memastikan kemampuan anak-anak kita dalam mengurus dirinya sendiri (konon, bahasa keren-nya ‘life skills’) dan memperjuangkan adanya kemampuan ini sesuai tahapan usianya, sama gigihnya seperti kita memperjuangkan mereka bisa baca, tulis, hitung, main alat musik, menggambar, bahasa inggris, komputer dll yang membuat kita sampai rela wira-wiri mengantar anak les dan kursus di sana dan di sini…

Soal toilet training, makan sendiri (yap betul.. merasa terganggu juga kan, kalau lihat anak gede-gede.. seumuran SD makannya masih harus disuap sambil diikutin ke sana kemari? ) pakai baju sendiri, mandi dan cebok sendiri.. menurutku adalah hal yang GENTING sekali lho.. karena betapa mengerikannya, anak jenius sekalipun.. yang punya fisik normal, dua kaki - dua tangan yang bisa digerakkan dengan baik (apalagi kalau bisa digerakkan buat main PS ;-)) tapi untuk mengurus dirinya sendiri harus selalu bergantung sama orang lain.

Jangan sampai kelak kita terlambat menyadari bahwa anak-anak tak mampu mengurus dirinya sendiri (dengan alasan tak pernah kita train untuk mengurus diri sendiri — karena marilah kita akui, lebih cepat, lebih mudah & less trouble untuk meladeni mereka daripada melatih mereka melakukan hal2 itu sendiri bukan?? hehehee).. dan jangan sampai terlambat pula menyadari bahwa skill ini tidak bisa mereka dapat dari tempat kursus.. tidak ada pula remedial-nya..

Berapapun uang yang kita punya tidak bisa membuat mereka jadi sekonyong-konyong jago
.. karena yang bisa membantu proses penguasaan mereka dalam life skill ini hanya pendampingan kita, orangtuanya dengan konsisten dan penuh kesabaran (sabar untuk konsisten maksudnya …)

*******************
/hds Maret 2007

Mall is No Playground

January 1st, 2007 by amandaiko

Published Sunday, March 21, 2004 By Marvin W. Berkowitz

I read a "letters from parents" column recently that concerned the age at which kids can safely and appropriately be dropped off at the shopping mall.

There are many subtexts to this question:

How old are kids before they are responsible without supervision? How safe are kids from predators in public places like a shopping mall? To what are kids exposed when they are wandering a shopping mall? Why are parents "malling" their children, and what messages are they sending to their children by doing so?

All of these are valid and complex questions, well worth considering and answering. But I want to focus on the broader issue of how we value and organize our children’s free time. And the impact on their character.

As I was growing up, we spent our free time mainly in each others’ homes or in the neighborhood (especially in the schoolyard on the baseball fields and basketball courts). Homes were safe, and the neighborhood was safe (of course neither of those are absolutes; even in the relatively idyllic neighborhood where I grew up, husbands sometimes beat their wives and one psychotic child murdered another child, but those were rare events). We were generally supervised in each other’s homes. And the schoolyard was full of kids we already knew from school and the neighborhood.

The activities we engaged in were generally healthy. Even TV, while admittedly not a major growth experience, wasn’t laden with the antisocial messages with which kids are constantly awash today. We played board games and ping pong, talked and watched TV. In the schoolyard, we played ball games, rode our bikes and talked some more. We got fresh air and exercise, and developed (mostly) mutually supportive relationships.

One of the very early covered shopping malls was right in our neighborhood. Perhaps we were dense, but it never seemed to "call" to us as a prime place to hang out and spend our time. It should be no surprise to anyone, but children need peer interaction, exercise, exposure to positive values and nurturant adult supervision. (Malls supply only the first, and that is the easy one.) Malls supply a place to dump children (message: you are a bother) and a place for idle hands to do the devil’s work (message: any activity is better than no activity) and are a magnet for predators (message: the world is a treacherous place) and a showplace for concentrated materialism and consumerism (message: "having" is a fundamental goal, regardless of whether you need it or not).

So, I think we need to be architects of our children’s leisure time as best we can. Especially when they are younger, because they become more responsible, competent and autonomous as they get older. We need to steer them to productive, healthy ways of spending their time. And we need to look deeply at the messages we send to our children through our choices or our failures to make choices.

The messages we send, intentionally or not, shape the character of our children.

————————————————-

Marvin W. Berkowitz, Ph.D. is the Sanford N. McDonnell professor of character education at the University of Missouri-St. Louis. His e-mail address is berkowitz@umsl.edu.

Belajar dari Prajurit Kecil-ku

January 1st, 2007 by amandaiko

"Ibu.. aku menang…!! Kata Bu Guru, aku juara.. teman-teman semua juga lho!" Begitu pekik riang bungsu-ku kemarin, sepulang sekolah.

Memang kemarin adalah hari terakhir rangkaian acara perayaan tujuh belas agustusan di sekolah; ditutup dengan aneka lomba ketangkasan –dan aku tahu persis, soal ketangkasan, kedua anakku agak mustahil lah jadi juara, hehe… itu ‘nurun banget dari ibunya– Jadi aku yakin, bahwa kalimat yang meluncur dari mulut anakku adalah kalimat ‘penghibur’ dari Gurunya buat murid-murid yang tidak memenangkan lomba, apalagi mengingat bahwa Ai sempat sesenggukan ketika kalah lomba peragaan busana pejuang, sehari sebelumnya

Tapi untuk menanggapi antusiasmenya, aku balas juga pekikan Aiko dengan pertanyaan, "O ya.. semua memang..?? Wah, ikut lomba apa aja tadi de?"

"Bukan lomba bu.. aku dan teman-teman menang perang…!" begitu celotehnya seru.. Dahiku mengerut..

"Oohh.. tadi di kelas main perang-perangan ya de?"  Pikirku, pasti tadi di kelas ada kegiatan role play ‘Perang Kemerdekaan’.

"Bukan ibuuuuuuuuuu… kata Bu Guru, hari ini aku menang perang betulan, seperti dulu pajuan(pejuang -red) melawan panjaja (penjajah -red) bu.. Tapi aku sama teman-teman perangnya melawan rasa malas, rasa malu, rasa takut, rasa mau menang sendiri dan rasa nggak sabaran.. gitu buu.." Mulut kecil itu nyerocos penuh semangat, tak peduli pengucapannya belum sempurna

Aih, mak deg.. hampir copot jantung ibunya mendengar jawabannya itu! Jadi guru, aku tahu memang harus kreatif banget ya (itulah makanya aku ngga bisa jadi guru deh kayanya, heheee..) tapi nggak sangka lho, bahwa bisa se’dalam’ itu kaitan antara perayaan hari kemerdekaan dengan konsep nilai yang tertanam dalam diri anak-anak.

Dasar aku lagi kumat ’serius’nya kali yaa.. celotehan siang itu betul-betul jadi bahan renungan semalaman. Dulunya, kupikir memang acara-acara tujuhbelasan itu penting buat anak-anak karena lewat kegiatan seperti itu mereka dikenalkan pada konsep nasionalisme -dalam pengertian yang paliiiing sederhana sekalipun, sekedar mengibarkan bendera kecil atau memakai pakaian merah-putih- lalu lewat permainan yang seru dan menyenangkan, supaya konsep hari merdeka itu bisa mereka identikkan dengan kegembiraan dan kebersamaan… kumpul dengan tetangga, teman-teman sekolah, ada hadiah.. pokoknya suasanya menyenangkan lah! Ketika mulai besar, momentum tujuh belasan adalah waktu untuk mengenalkan pada anak tentang makna sejarah perjuangan dan jasa mereka yang merebut kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajah.

Namun sungguh, tak pernah terbersit di benakku.. bahwa lewat perayaan tujuh belas agustusan, anak-anak bisa diajak merasakan ‘berperang’.. apalagi anak-anak sekecil Aiko, yang belum juga sebulan jadi anak TK!

Akhirnya ingatanku terbang ke tiga hari terakhir saat di sekolahku berlangsung rangkaian perayaan tujuh belasan. Iya juga ya.. buat ikut berlomba, anak-anak harus bisa mengalahkan rasa malu tampil ke depan, rasa takut bahwa bakiaknya akan copot atau lebih lagi.. rasa takut bahwa akan kalah. Mereka juga mesti sabar menunggu giliran, lalu ketika sudah dapat giliran.. sabar lagi menunggu teman-temannya yang belum dapat giliran.

Kalau begitu, sebetulnya.. kita yang statusnya ‘dewasa’ dan orangtua dari anak-anak kecil ini harusnya bisa juga ya belajar berperang melawan berbagai rasa itu.. Karena kalau kita mau jujur melihat jauh ke dalam lubuk hati yang paling dalam, biasanya kalau anak-anak dapat undangan perayaan tujuh belasan, kita yang suka merasa "ah, malas deh de.. kan di sekolah cuma lomba-lomba aja, ngga belajar kok.. jadi di rumah aja deh daripada macet-macetan ke sekolah" atau sebaliknya, sebegitu semangatnya mempersiapkan anak ikut lomba dan memperjuangkan dengan segala cara supaya si anak dapat giliran duluan, jangan sampai menunggu terlalu lama, dan….. jangan sampai ngga menang..!!

Kalau dipikir dan dikenang, berapa kali ya, sebagai orangtua ketika mendampingi anak berlomba mengucap,

"eeehh sebetulnya tadi anak saya seperempat langkah lebih dulu lho nyentuh garis finish!"

"curang tu dia.. terang aja menang.. soalnya badannya lebih besar dari anak saya!"

atau.. ada lagi yang merasa ngga ada perlunya menunggu sampai akhir acara "udah yuk de, yang penting kamu udah lomba kan.. masih banyak banget tu temennya yang belum, lama bener kalo ditungguin sampai acaranya selesai.. pulang aja yuk duluan.. toh kamu ngga menang ini.."

Padahal, lewat lomba-lomba sederhana dan skala keciiiil seperti ini, anak belajar tentang sportivitas dan etika, dua hal yang penting serta genting dibutuhkan saat mereka nantinya harus menghadapi lomba-lomba ‘besar’ dalam kehidupan yang sesungguhnya.. yaitu kehidupan yang kemungkinan besar harus mereka lalui tanpa bisa didampingi oleh kita, orangtuanya.

Ya..ya..ya.. ternyata betul juga ya, baik itu para pejuang jaman dulu yang harus merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, anak-anak jaman sekarang maupun kitaa… orangtua yang harus mengantar anak-anak sampai gerbang kehidupannya nanti, harus melalui medan perang yang sama beratnya.

MERDEKA !!!

***************************** hds/17 Agustus 2006

(kata Amanda) Tentang “Hubungan Suami Isteri”

January 1st, 2007 by amandaiko

Ini percakapan sore-sore.. Saat habis wudhu, sambil nunggu Amanda yang lagi siapin tempat sholat, aku terima telpon dari Adam.. Selesai telpon, Amanda menghampiriku dengan muka cemas…

Amanda : "Ibu, kayanya musti wudhu lagi deh…"

Ibu : "Lho kenapa Kak?"

A : "Ibu batal kan wudhunya?" mukanya masih cemas gitu..

I : "Engga kok.. wudhu Ibu belum batal" aku pun kekeuh..

A : "Ibu memangnya ngga diajarin ya.. kalau sudah wudhu tu ngga boleh telpon atau sms-an lagi lho sama Bapak !!" kali ini mukanya lebih keliatan ngga sabar… seperti biasanya kalau dia ngomong dan kami yang dewasa ngga ngerti..

I : "he..?? aduh maaf Kak, ibu ngga ngerti.. maksud Kakak gimana?"

A : "Hubungan suami isteri kan membatalkan wudhu bu !"

I : "………….." (pingsaaaan….)

The Best Gift for a Child

August 11th, 2006 by amandaiko

Feb 3, ‘06 11:08 AM

Ini sedikit oleh-oleh dari sebuah seminar .. smoga berkenan ;-) walaupun tulisannya ditujukan untuk Bapak & Anak lelakinya, tp cukup ‘enlighting’ juga buat dianalogikan oleh kita yang ibu-ibu… dengan anak lelaki ataupun anak perempuan kita… hehe.. happy reading & have a nice weekend ! ======================================

The Best Gift for a Child

A father ask..

"What shall i give to my boy?" a glamorous game, a tinseled toy, a barlow knife, a puzzle pack a train that runs on a curving track a picture book, or maybe a real live pet ??

No, there’s plenty of time for such things yet

Give him a day for his very own.. just one boy and his Dad alone a walk in the woods, a romp in the park a fishing trip from dawn to dark

Give him the gift that only you can give.. The companionship of his Dad..

Games are outgrown, and toys decay But he’ll never forget if you ‘give him a day’

-anon-